Info

Mengenal ASD, Gangguan Stres Akut yang Mirip PTSD

Acute stress disorder (ASD) adalah kondisi kesehatan mental yang dapat terjadi segera setelah peristiwa traumatis.

Dinar Surya Oktarini | Dwi Citra Permatasari Sunoto

Ilustrasi stres akut. (Pixabay/geralt)
Ilustrasi stres akut. (Pixabay/geralt)

Himedik.com - Gangguan stres akut atau acute stress disorder (ASD) adalah kondisi kesehatan mental yang dapat terjadi segera setelah peristiwa traumatis. Ini dapat menyebabkan berbagai gejala psikologis dan tanpa pengobatan, dapat menyebabkan gangguan stres pasca-trauma (PTSD).

Ada hubungan erat antara gangguan stres akut (ASD) dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Beberapa orang mengalami PTSD setelah menderita ASD.

Bahkan menurut United States Department of Veterans Affairs, sekitar 19 persen orang akan mengalami ASD setelah mengalami peristiwa traumatis.

Walaupun setiap orang merespons peristiwa traumatis secara berbeda, tapi penting untuk mewaspadai potensi efek fisik dan psikologis yang dapat terjadi sesudahnya.

ASD merupakan diagnosis psikologis yang relatif baru. Melansir dari Medical News TodayAmerican Psychiatric Association pertama kali memperkenalkannya ke edisi keempat Diagnostic and Statistical Manual of Mental Health Disorders pada tahun 1994.

Meskipun memiliki banyak gejala yang sama dengan PTSD, ASD memiliki diagnosis yang berbeda.

Penderita ASD mengalami tekanan psikologis segera setelah peristiwa traumatis. Tidak seperti PTSD, ASD adalah kondisi sementara, dan gejala biasanya bertahan selama setidaknya 3 hingga 30 hari setelah peristiwa traumatis.

Jika seseorang mengalami gejala lebih dari sebulan, dokter biasanya akan mendiagnosis sebagai PTSD.

Gejala stres akut

Penderita ASD mengalami gejala yang mirip dengan PTSD dan gangguan stres lainnya, yaitu:

1. Gejala intrusi

Terjadi ketika seseorang tidak dapat berhenti mengingat kembali peristiwa traumatis baik dari kilas balik, ingatan, atau mimpi.

2. Mood negatif

Seseorang mungkin mengalami pikiran negatif, kesedihan, dan suasana hati yang buruk.

Marah bisa dibawa ke arah positif. (unsplash/@Christian Fregnan)
Ilustrasi mood buruk. (unsplash/@Christian Fregnan)

 

3. Gejala disosiatif

Ini dapat mencakup perubahan realitas, kurangnya kesadaran tentang lingkungan, dan ketidakmampuan untuk mengingat bagian dari peristiwa traumatis.

4. Gejala penghindaran

Mereka yang mengalami gejala ini sengaja menghindari pikiran, perasaan, orang, atau tempat yang mereka kaitkan dengan peristiwa traumatis.

5. Gejala gairah

Meliputi insomnia dan gangguan tidur lainnya, sulit berkonsentrasi, serta mudah tersinggung atau agresi, yang dapat berupa verbal atau fisik. Penderita mungkin juga merasa tegang atau waspada dan mudah terkejut.

Penyebab gangguan stres akut

Orang-orang menderita ASD setelah mengalami satu atau lebih peristiwa traumatis. Peristiwa traumatis dapat menyebabkan kerusakan fisik, emosi, atau psikologis yang signifikan.

Segera ke dokter atau psikiater jika mengalami gejala di atas. Pasalnya gangguan stres akut dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih serius seperti kecemasan dan depresi.

Berita Terkait

Berita Terkini