Pria

Kisah Seorang Pria yang Sembuh dari Kanker Prostat Stadium Akhir

"Saya seharusnya sudah meninggal 18 bulan yang lalu," katanya.

Vika Widiastuti | Yuliana Sere

Kanker prostat, salah satu kanker yang ditakuti kaum pria. (pixabay)
Kanker prostat, salah satu kanker yang ditakuti kaum pria. (pixabay)

Himedik.com - Bicara soal kanker prostat, ini merupakan salah satu kanker yang ditakuti oleh semua pria. Kanker ini terjadi ketika sel prostat mengalami mutasi dan mulai berkembang di luar kendali.

Kali ini sebuah kisah datang dari David Livingstone (66), pria asal Irlandia Utara yang didiagnosis mengalami kanker prostat stadium akhir, dilansir HiMedik dari dailymail.

"Selama hampir 20 tahun, saya adalah seorang petugas lalu lintas sepeda motor bersama dengan polisi, tetapi saya pensiun di usia 40an karena alasan medis.

Saya mengalami cedera punggung yang cukup parah dalam dua kecelakaan sepeda motor saat menjalankan tugas. Saya pun harus menghabiskan banyak waktu untuk istirahat karena kejadian ini.

Tetapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan penderitaan yang saya alami pada suatu pagi di bulan Mei 2016. Rasa sakit di punggung saya sangat buruk sehingga saya tidak bisa bisa bangun dari tempat tidur.

Akhirnya dengan bantuan istri saya, Phyllis, saya berhasil bangkit dan setelah minum beberapa obat penghilang rasa sakit, sakit saya sedikit mereda.

Namun, keesokan paginya, hal yang sama terjadi. Pada awalnya, saya pikir itu karena luka lama saya, tetapi ketika rasa sakit itu berlanjut, saya pergi ke dokter umum.

Dia curiga itu mungkin batu ginjal dan menyuruh saya pergi ke A&E. Pagi berikutnya, saya melakukan CT scan dan tes darah.

Kemudian pada hari itu, seorang dokter menjelaskan bahwa saya memiliki tumor prostat yang sangat agresif yang telah menyebar ke tulang belakang dan kelenjar getah bening. Bagaimanapun, saya tidak memiliki batu ginjal.

Tingkat antigen spesifik prostat (PSA), protein yang meningkat ketika sel-sel kanker muncul, berada di luar skala. Pembacaan yang normal sekitar 4ng/ml. Milik saya adalah 3.495, salah satu yang tertinggi yang pernah dilihat dokter saya.

Saya diberitahu bahwa tidak ada gunanya menghilangkan prostat karena sel-sel tumor sudah menyebar.

Saya kaget karena saya merupakan salah satu dari mereka yang tidak memiliki gejala sama sekali sampai pada stadium lanjut. Dan kanker saya adalah terminal.

Setelah sampai di rumah, saya menyampaikan kabar itu kepada Phyllis. Dia sangat terkejut. Kami menangis, dan kemudian memberi tahu putri sulung kami, Victoria (30). Putri kami yang lebih muda, Andrea (27), seorang dokter, saat itu ada bersama saya ketika saya mendapat diagnosis.

Saya diberi sekitar satu tahun untuk hidup, bahkan dengan perawatan untuk memperlambat penyebaran kanker.

Dalam beberapa hari, saya mendapat terapi hormon dosis empat minggu pertama untuk menekan kadar testosteron yang digunakan kanker untuk berkembang. Saya juga memulai kemoterapi selama enam bulan.

Ilustrasi obesitas. (unsplash)
Kelebihan berat badan meningkatkan risiko seorang laki-laki terkena kanker prostat. (unsplash)

 

Terapi hormon memang memiliki beberapa efek samping yang buruk, termasuk kelelahan ekstrem, muka memerah dan penambahan berat badan serta rambut saya rontok karena kemoterapi.

Saya pun bisa berjalan menyusuri lorong pada Oktober 2016 dan itu adalah salah satu hari paling membanggakan dalam hidup saya.

Namun, saya tahu itu mungkin hanya beberapa bulan sebelum akhirnya saya menyerah pada kanker.

Kemudian, suatu malam di berita lokal, saya melihat laporan televisi tentang para peneliti yang mencari sukarelawan untuk perawatan baru yang diujicobakan untuk pria dengan kanker prostat lanjut di Northern Ireland Cancer Centre di Belfast, hanya 35 mil dari tempat saya tinggal.

Saya menghubungi mereka pada hari berikutnya. Para peneliti menjelaskan bahwa itu melibatkan 'double whammy' dari radioterapi, di mana mereka akan meledakkan prostat saya dengan radiasi dari luar tubuh saya, tetapi juga menyuntikkan obat radioaktif yang mencari tumor, untuk memburu sel-sel ganas secara internal.

Mereka mengatakan kanker saya tidak akan sembuh, tetapi itu bisa dikendalikan sehingga saya bisa hidup normal dan umur panjang.

Pada Desember 2016, saya menjalani 37 sesi radioterapi harian pertama. Saya juga mendapat enam suntikan obat pencari tumor yang disebut Xofigo.

Ternyata, kedua teknik tersebut sudah digunakan pada NHS tetapi belum ada yang mencobanya pada kanker prostat stadium lanjut.

Saya mengalami muntah dan diare serta kondisi tubuh yang sangat lemah. Jadi saya perlu minum suplemen kalsium setiap hari dan saya masih mendapat suntikan terapi hormon secara teratur.

Tetapi, lebih dari dua setengah tahun setelah diagnosis saya, scan menunjukkan saya bebas dari kanker, terlepas dari satu bidang kecil di tulang belakang saya. Dan PSA saya hampir nol.

Saya seharusnya sudah mati 18 bulan yang lalu, jadi kenyataan bahwa saya masih di sini bukan keajaiban namun semua berkat dokter yang melakukan penelitian penting ini."

Berita Terkait

Berita Terkini