Anak

Viral Siswa SD Keracunan Permen, Yuk Intip Penyebabnya

Keracunan bisa terjadi karena makanan tersebut tidak higienis alias terkontaminasi oleh bakteri luar.

Rauhanda Riyantama

Ilustrasi siswa SD. (unsplash)
Ilustrasi siswa SD. (unsplash)

Himedik.com - Kasus siswa SD keracunan tengah viral di media sosial. Diketahui, pada Selasa (2/10/2018) sebanyak 14 siswa SDN Ngadiwarno, Sukorejo, Kabupaten Kendal diduga keracunan usai mengonsumsi permen jeli berbentuk stik yang dibeli dari pedagang makanan di sekitar sekolah.

Menurut kabar, sebagian besar korban adalah siswa kelas tiga. Rerata mereka mengalami pusing, mual, dan lemas. Bahkan, enam di antaranya harus mendapatkan perawatan ekstra karena mengalami keracunan cukup parah.

Kepala SDN 1 Ngadiwarno, Siti Rokhimah, membenarkan perihal insiden tersebut. Menurut keterangannya, keracunan terjadi setelah para siswanya membeli permen jeli berbentuk stik saat jam istirahat pertama, pukul 09.30 WIB. Saat kejadian, ia mengaku sedang rapat di SD lain.

“Dapat kabar itu, saya langsung ke Puskesmas. Tetapi sudah dibawa pulang oleh orangtua siswa karena sudah cukup membaik. Yang keracunan ada 14 siswa. Namun yang cukup parah ada enam siswa,” ungkap Siti.

Menurut keterangan korban, yang berhasil dihimpun oleh Siti, awal mula membeli permen itu karena tertarik dengan warna dan baunya. Bentuknya pun juga unik, sehingga sangat menarik perhatian siswa.

Sebenarnya, pihak sekolah kerap kali mengingatkan agar tidak jajan sembarangan. Siti juga memastikan bahwa penjual permen tersebut bukanlah pedagang yang berjualan di kantin sekolah. Bahkan, diketahui pedagang itu baru pertama kali menjual permen tersebut.  

Melihat kasus tersebur, Himedik berhasil menelusuri penyebab keracunan. Dirangkum dari berbagai sumber, keracunan bisa terjadi karena makanan tersebut tidak higienis alias terkontaminasi oleh bakteri luar. Biasanya bisa terjadi pada tahap produksi, penyimpanan, hingga pengemasan, dan yang paling sering terkontaminasi jenis makanan mentah dan siap saji.

Ilustrasi anak keracunan. (pixabay)
Ilustrasi anak keracunan. (pixabay)

 

Lebih jelasnya, berikut bebeapa jenis bakteri yang dapat mengontaminasi makanan.

  • Campylobacter. Bakteri jenis ini biasa ditemukan di dalam daging mentah atau kurang matang, susu, dan air yang tidak diolah dengan benar. Masa inkubasi yang disebabkan oleh bakteri ini adalah antara 2-5 hari. Gejala biasanya berlangsung kurang dari 7 hari.

  • Salmonella. Bakteri ini sering ditemukan di dalam daging mentah atau kurang matang, telur, susu, dan produk olahan susu lainnya. Masa inkubasi akibat salmonella adalah 12-72 jam. Gejala berlangsung selama 4-7 hari.

  • Escherichia coli (E. coli). Kasus infeksi bakteri ini kebanyakan terjadi setelah mengonsumsi daging yang kurang matang, seperti pada daging cincang dan E. coli bisa juga ditemukan pada susu yang tidak dipasteurisasi dan air yang kotor. Masa inkubasi bakteri ini adalah 1-7 hari. Gejala berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu.

  • Clostridium botulinum (C. botulinum). Bakteri ini bisa ditemukan pada makanan kaleng dengan tingkat keasaman yang rendah, seperti asparagus, kacang hijau, buah bit, dan jagung. Selain itu, bakteri ini juga dapat ditemukan di potongan bawang berminyak, lada, tomat, kentang rebus yang dibungkus dengan kertas aluminium, hingga ikan kalengan. Bakteri ini menyebabkan konstipasi hingga kelumpuhan otot-otot tubuh karena adanya racun terhadap saraf. Masa inkubasi botulinum adalah 18-36 jam.

  • Listeria. Bakteri ini bisa ditemukan di dalam makanan siap saji (misalnya roti isi yang dikemas) dan keju. Wanita hamil harus berhati-hati dengan infeksi akibat bakteri ini karena berisiko menyebabkan keguguran dan komplikasi kehamilan serius lainnya. Masa inkubasi mulai dari beberapa hari hingga beberapa minggu. Gejalanya akan selesai dalam waktu tiga hari.

  • Shigella. Bakteri ini bisa muncul pada makanan apa pun yang dicuci dengan air yang kotor. Gejalanya biasanya muncul tujuh hari setelah bakteri masuk ke dalam tubuh dan berlangsung sekitar satu minggu. Bakteri ini dapat menyebabkan disentri.

Berita Terkait

Berita Terkini