Anak

Balita Meninggal Saat Pakai Kalung Pereda Nyeri Tumbuh Gigi, Ini Sebabnya

Peringatan tersebut dikeluarkan setelah adanya kasus kematian pada anak.

Vika Widiastuti

Ilustrasi bayi. (unsplash)
Ilustrasi bayi. (unsplash)

Himedik.com - Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengeluarkan peringatan soal pemakaian kalung pereda nyeri tumbuh gigi atau kalung amber pada anak. Kalung itu disebutkan membuat anak berisiko mengalami cedera serius bahkan kematian.

Dilansir dari Mirror.co.uk, FDA mengatakan kalung tumbuh gigi tidak aman. Peringatan tersebut dikeluarkan setelah adanya kasus kematian pada anak.

Seorang anak berusia 18 bulan dilaporkan meninggal tercekik kalung amber saat sedang tidur. Selain itu, ada juga bayi berusia 7 bulan yang tersedak manik-manik kalung tumbuh gigi lalu dibawa ke rumah sakit.

Orangtuanya biasanya menggunakan kalung tumbuh gigi untuk meredakan ketidaknyamanan yang dialami balita saat sedang tumbuh gigi. Selain itu, produsen juga mengklaim kalung tersebut bisa membantu meringankan peradangan dan mengurangi rasa sakit.

Bukan hanya itu, kalung semacam ini juga digunakan oleh anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti autisme utau attention-deficit atau hyperactivity disorder (ADHD) untuk stimulasi sensorik.

Namun, sekali lagi FDA memperingatkan kalung tersebut bisa membuat anak mengalami cedera.

"Kita tahu bahwa kalung tumbuh gigi dan produk perhiasan telah menjadi populer di kalangan orangtua dan pengasuh yang ingin memberikan bantuan untuk mengurangi rasa sakit dan stimulasi sensorik untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus," kata Komisaris FDA Scott Gottlieb.

Ilustrasi kalung amber (Pixabay/jurgitamakita)
Ilustrasi kalung amber (Pixabay/jurgitamakita)

 

Namun, setelah melakukan pengamatan, pihaknya mengaku khawatir akan risiko yang bisa terjadi karena kalung pereda nyeri saat tumbuh gigi.

"Kami khawatir tentang risiko yang telah kami amati atas produk-produk ini dan kami ingin para orangtua menyadari bahwa perhiasan tumbuh gigi bisa membuat anak-anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus mengalami cedera serius bahkan kematian," lanjutnya.

Berita Terkait

Berita Terkini