Anak

Heboh Kasus Inses, Ini Dampaknya jika Bayi Lahir dari Hubungan Sedarah

Anak dari hubungan inses sangat berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan yang parah.

Vika Widiastuti | Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana

Ilustrasi gadis depresi (Pixabay/Anemone123)
Ilustrasi gadis depresi (Pixabay/Anemone123)

Himedik.com - Belakangan santer dikabarkan perempuan berinisial AG (18) jadi korban inses ayah dan saudara kandungnya. Penyandang disabilitas asal Lampung ini telah diperkosa ayah kandungnya, M (45), kakak kandungnya, SA (24), dan adik kandungnya, YF (25), sejak 2018.

Polisi lantas meringkus ketiga pelaku pemerkosaan tersebut di rumah mereka di Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Lampung, Kamis (21/2/2019) malam.

"Kondisi korban dalam keadaan disabilitas atau keterbelakangan mental," ujar Kasat Reskrim Polres Tanggamus AKP Edi Qorinas, dikutip dari Saibumi.com, jaringan Suara.com.

Kasus inses ini pun merebak di kalangan masyarakat dan banyak orang yang prihatin. Apalagi, tak hanya tabu, hubungan sedarah memang memiliki dampak negatif. Terkadang masyarakat pun bertanya-tanya, bagaimana dampak inses terhadap bayi.

Ilustrasi bayi - (Unsplash/rawpixel)
Ilustrasi bayi - (Unsplash/rawpixel)

 

Mengutip Listverse, reproduksi dari pasangan sedarah mengakibatkan masalah serius.

Ketika dua orang yang memiliki banyak kesamaan gen berkembang biak, mereka mempunyai risiko tinggi menurunkan gangguan resesif autosom pada anaknya. Kondisi yang diwariskan melalui gen resesif ini antara lain berupa fibrosis kistik, anemia sel sabit, dan albinisme.

Efek samping lain dari perkawinan sedarah termasuk peningkatan risiko infertilitas, cacat lahir seperti sumbing, masalah jantung, asimetri wajah, berat badan bayi sedikit, laju pertumbuhan lambat, dan kematian neonatal.

Sebuah studi menunjukkan bahwa 40 persen anak-anak yang orang tuanya merupakan kerabat tingkat pertama (orang tua, anak, atau saudara kandung, -red) lahir dengan gangguan resesif autosom, kelainan fisik bawaan, atau keterbelakangan mental yang parah.

Menurut penelitian itu, kerabat tingkat pertama yang kawin menyebabkan anak mereka 50 persen lebih berisiko mengalami kematian dini, cacat lahir yang serius, atau cacat mental.

Berita Terkait

Berita Terkini