Anak

Seberapa Amankah Diet Vegan untuk Anak yang Sedang Masa Pertumbuhan?

Beberapa poin ini wajib diperhatikan orang tua!

Vika Widiastuti | Yuliana Sere

Menu makanan sehat. (Unsplash/Max Delsid)
Menu makanan sehat. (Unsplash/Max Delsid)

Himedik.com - Sebagai orang tua, tentu ingin yang terbaik untuk anaknya. Salah satu pilihan yang mungkin dipikirkan para orang tua adalah diet vegan untuk anak.

Lalu, amankah jika anak juga mengikuti pola hidup sehat ini? Melansir dari medicaldaily, para peneliti mengemukakan pendapatnya.

Dalam buku Nutrisi Anak, American Academy of Pediatrics, mereka menyatakan bahwa "Menjadi hal yang mungkin memberikan diet vegan selama itu direncanakan dengan hati-hati."

Dengan kata lain, kamu harus berkonsultasi dengan dokter anak sebelum membuat anak mengikuti diet vegan yang ketat.

Seperti halnya dengan orang dewasa, diet nabati bisa sangat menyehatkan, dari risiko obesitas yang lebih rendah hingga peningkatan kesehatan jantung, dan banyak manfaat jangka panjang lain.

"Jika dilakukan dengan baik, itu adalah salah satu pola diet terbaik," kata David Katz, direktur pendiri Yale-Griffin Prevention Research Center.

"Tapi semua yang gemerlap itu bukan emas. Diet marshmallow atau jelly bean bisa dianggap sebagai diet vegan dan itu sangat mungkin dilakukan dengan buruk," tambahnya.

Ilustrasi makanan (Pixabay/RitaE)
Ilustrasi makanan vegan. (Pixabay/RitaE)

 

Sementara itu, menghilangkan komponen seperti susu dapat berbahaya jika nutrisi yang hilang tidak diterima dari sumber lain, seperti kisah seorang bayi 20 bulan yang menderita rakhitis setelah menjalani diet ketat vegan.

Rakhitis merupakan penyakit tulang yang disebabkan oleh kurangnya vitamin D yang sebagian besar ditemukan pada susu, telur dan ikan.

Secara umum, vegan berisiko kekurangan vitamin B12, zat besi, seng, dan kalsium karena kebanyakan berasal dari produk hewani. Namun, dengan upaya yang memadai bukan tidak mungkin untuk mencegah kekurangan ini.

Dengan berbicara dengan ahli gizi anak, orang tua dapat menemukan semua pengganti yang diperlukan dengan pola makan vegan yang besar dan bervariasi.

Misalnya, kalsium dapat bersumber dari kol dan brokoli, tahu serta jus jeruk. Sementara itu, anak juga mungkin akan mengalami kekurangan vitamin B12 jika hanya mengonsumsi susu atau telur.

Pasalnya, kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan beberapa masalah neurologis.

Ilustrasi makanan antiinflamasi. (unsplash/@brookelark)
Ilustrasi makanan vegan. (unsplash/@brookelark)

 

"Mereka berada pada tahap penting dalam hal perkembangan otak dan mereka memiliki kebutuhan tinggi dalam semua lemak penting dan vitamin yang larut, yang diperoleh dari produk hewani," kata Sylvia North, ahli gizi yang berbasis di Auckland, New Zealand.

Intinya adalah bahwa anak-anak dapat mengikuti diet vegan, tetapi hanya jika dilakukan dengan saran ahli gizi. Ini berarti mempertahankan varietas dengan biji-bijian utuh, buah-buahan, sayuran, dll.

Tidak hanya itu, disarankan agar anak juga menggunakan produk dan suplemen yang diperkaya nutrisi karena vegan lebih mampu berisiko kekurangan gizi.

Efek emosi anak juga patut dipertimbangkan. "Beberapa anak mungkin memiliki perasaan 'terpisah' ketika mereka makan secara berbeda dari teman sebayanya," catat ahli diet anak Katie Nowacki.

"Juga, mengikuti diet ketat atau sangat terspesialisasi dapat mengarah pada perilaku makan terbatas di kemudian hari," tambahnya.

Berita Terkait

Berita Terkini