WHO: Kasus Campak Tahun 2019 Capai Titik Tertinggi dalam 23 Tahun Terakhir

Pandemi covid-19 merupakan salah satu faktor penyebabnya.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
Senin, 23 November 2020 | 11:00 WIB
WHO: Kasus Campak Tahun 2019 Capai Titik Tertinggi dalam 23 Tahun Terakhir

WHO: Kasus Campak Tahun 2019 Capai Titik Tertinggi dalam 23 Tahun Terakhir

himedik.com - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat bersama Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan kasus campak pada 2019 mencapai titik tertinggi secara global dalam 23 tahun terakhir.

Dalam penelitian yang terbit pada Kamis (14/11/2020), WHO dan CDC melaporkan hampir 870 ribu kasus campak tahun lalu, dan jumlah kematian pun mencapai sekitar 207.500, meningkat hampir 50% sejak 2016 lalu.

Dilansir Business Insider, kedua badan tersebut menyalahkan peningkatan jumlah kasus ini pada penurunan vaksinasi secara signifikan.

Padahal, anak-anak harus menerima dua dosis vaksin campak untuk menghindari infeksi menular ini.

"Data ini mengirimkan pesan yang jelas bahwa kami gagal melindungi anak-anak dari campak di setiap wilayah di dunia," tutur direktur jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah pernyataan.

Campak [shutterstock]
Campak [shutterstock]

Cakupan vaksinasi menggunakan dua vaksin campak telah berhenti antara 70% hingga 85% secara global.

Menurut WHO dan CDC, upaya global untuk menghentikan pandemi virus corona telah mempersulit kampanye vaksinasi campak, yang memungkinkan penyakit ini menyebar lebih jauh.

Karena penghentian kampanye vaksinasi campak, kedua badan tersebut memperkirakan akan ada lebih dari 94 juta orang di 26 negara berisiko tidak mendapatkan vaksin bulan ini.

Dari negara-negara dengan layanan imunisasi tertunda tahun ini, hanya ada 8 yang mulai kembali, seperti Brasil, Republik Afrika Tengah, Kongo, Ethiopia, Nepal, Nigeria, Filipina, dan Somalia.

Campak kebanyakan menyerang anak balita dan bisa berakibat fatal pada mereka yang kekurangan gizi atau sistem kekebalan terganggu.

Baca Juga: Anak-Anak Lebih Berisiko Kena Campak Dibanding Virus Corona, Ini Sebabnya!

Lebih dari 95% kematian akibat campak telah terjadi di negara berkembang.

×
Zoomed
TERKINI
DBD bisa menyerang siapa saja, di mana saja terlepas dari tempat tinggal, usia, atau gaya hidup....
anak | 10:39 WIB
Issa Xander cuma punya paspor Amerika Serikat....
anak | 10:00 WIB
Ketidakseimbangan pada hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid dapat terjadi akibat pola makan yang tidak sehat....
anak | 07:00 WIB
Di Indonesia tak ada vaksin khusus HMPV seperti halnya vaksin covid-19 dan semacamnya....
anak | 10:00 WIB
Penelitian menyatakan bahwa pola makan rendah asupan serat merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko te...
anak | 07:00 WIB