Info

Temuan Studi: Bakteri Kian Kebal, Hand Sanitizer Jadi Tak Efektif

Hand sanitizer semakin kurang efektif melawan kuman membandel.

Rauhanda Riyantama

Ilustrasi bakteri dilihat dari mikroskop. (ua.depositphotos.com)
Ilustrasi bakteri dilihat dari mikroskop. (ua.depositphotos.com)

Himedik.com - Gel pembersih tangan berbahan dasar alkohol alias hand sanitizer kian populer digunakan sebagai alat pembersih instan. Karena tak perlu repot mencari sumber air ataupun sabun.

Namun, baru-baru ini studi menemukan bahwa hand sanitizer semakin kurang efektif melawan kuman membandel. Bahkan, para ilmuwan memperingatkan untuk mengurangi penggunaan gel pembersih tersebut pada rumah sakit, karena kehilangan efektivitasnya.

Mulanya, para ilmuwan di Australia menguji bakteri yang telah dikumpulkan selalam 19 tahun. Hasilnya mereka menemukan kuman membandel, seperti vancomycin resistant enterococcus (VRE) tumbuh semakin kebal terhadap desinfektan berbasis alkohol.

Infeksi VRE adalah salah satu penyakit yang paling sulit diobati karena bakteri resistan terhadap banyak golongan antibiotik, termasuk obat vankomisin. Untuk memerangi mikroba berbahaya, rumah sakit di seluruh dunia telah menerapkan prosedur kebersihan tangan yang ketat. Langkah ini umumnya melibatkan mengelap atau mencuci tangan menggunakan zat yang mengandung disinfektan alkohol etil atau isopropil.

"Ini bukan akhir dari hand sanitizer pada rumah sakit, benda ini adalah salah satu prosedur pengendalian infeksi yang paling efektif yang telah dikenal di seluruh dunia. Tapi kita tidak bisa hanya mengandalkan disinfektan berbasis alkohol, kita juga membutuhkan prosedur dan kebijakan tambahan. Untuk rumah sakit kebijakan ini akan menjadi era pembersih super, yang termasuk disinfektan alternatif, mungkin berbasis klorin," kata salah satu anggota tim ahli mikrobiologi molekul, besutan Stinear dari Peter Doherty Institute di Australia.

Angka memperkirakan bahwa kuman membandel akan membunuh 10 juta orang setiap tahun pada 2050. Kuman membandel ini merupakan kuman yang pada awalnya tidak berbahaya.

Hand sanitizer. (Elenathewise/Getty Images)
Hand sanitizer. (Elenathewise/Getty Images)

 

Sekitar 700.000 orang di seluruh dunia telah meninggal setiap tahun karena infeksi yang resistan terhadap obat termasuk tuberkulosis (TB), HIV, dan malaria. Kekhawatiran telah berulang kali dikemukakan atas alasan obat-obatan akan dibawa kembali ke “zaman kegelapan” jika antibiotik dirasa tidak efektif lagi pada tahun-tahun mendatang.

Selain obat yang ada menjadi kurang efektif, hanya ada satu atau dua antibiotik baru yang dikembangkan dalam 30 tahun terakhir. Untuk studi baru ini, tim peneliti memantau 139 sampel bakteri enterococcus faeciumyang dikumpulkan dari pasien dua rumah sakit antara tahun 1997 dan 2015 untuk melihat seberapa baik kuman bertahan hidup saat terpapar alkohol isopropil yang diencerkan.

Walhasil, bakteri yang diperoleh setelah tahun 2009 lebih toleran terhadap disinfektan daripada sampel yang diambil sebelum 2004. Di bagian lain dari studi, bakteri diambil dari lantai kandang tikus laboratorium. Mikroba toleran-alkohol lebih mampu mengkolonisasi usus tikus setelah kandang dibersihkan dengan tisu disinfektan.

Dikutip dari Reuters, Paul Johnson, anggota tim dari penyedia layanan kesehatan Australia, Austin Health, mengatakan, zat pembersih berbasis alkohol merupakan pilar internasional atas pengendalian infeksi di rumah sakit dan tetap sangat efektif dalam mengurangi penularan dari kuman membandel, khususnya methicillin resistant Staphylococcus aureus (MRSA)."

Meski demikian, selanjutnya membersihkan tangan mungkin perlu menggunakan kombinasi dengan prosedur lain dan harus selalu digunakan dengan benar. Kelalaian orang untuk membersihkan tangan mereka selama 20-30 detik, seperti yang disarankan dalam dunia medis, bisa menjadi salah satu alasan mengapa bakteri ini memiliki kesempatan untuk bermutasi dan menjadi resistan.

Stinear, yang menjadi peneliti utama studi, menggambarkan kuman VRE yang tahan sanitasi sebagai gelombang baru kuman membandel yang muncul. “Penggunaan zat kebersihan tangan berbasis alkohol telah meningkat sepuluh kali lipat selama 20 tahun terakhir di rumah sakit Australia, jadi kita banyak menggunakannya dan lingkungan berubah," ungkap Stiner.

Berita Terkait

Berita Terkini

info

Apa yang Terjadi pada Otak saat Putus Cinta?

Jika Anda merasa sakit fisik atau mengalami "sakit hati" setelah putus cinta, bisa jadi karena otak bereaksi terhadap situasi dengan cara yang sama ketika Anda terluka secara fisik.