Info

Wow, Ini Batu Bata Pertama di Dunia yang Terbuat dari Urine Manusia

Batu bata pertama yang terbuat dari urine manusia.

Vika Widiastuti | Yuliana Sere

Batu bata. (Pixabay/PublicDomainPictures)
Batu bata. (Pixabay/PublicDomainPictures)

Himedik.com - Batu-bata yang terbuat dari urine manusia telah diciptakan. Para peneliti dari Universitas Cape Town telah mengembangkan batu bata bio pertama di dunia yang terbuat dari urine manusia.

Melansir dari mirror, batu bata dibuat melalui proses alami yang disebut presipitasi karbonat mikroba.

Dalam proses ini, pasir lepas digabungkan dengan bakteri yang secara alami menghasilkan enzim yang disebut urease.

Urease memecah urea dalam urine, sambil menghasilkan kalsium karbonat, yang mengamplas pasir menjadi bentuk yang dipilih.

Hebatnya, seluruh proses ini dapat terjadi pada suhu kamar yang merupakan kabar baik bagi lingkungan dan pemanasan global.

Jika digunakan sebagai bahan bangunan, pembeli kemudian dapat memilih seberapa kuat batu bata yang mereka inginkan.

Batu bata. (Pixabay/Free-Photos)
Batu bata. (Pixabay/Free-Photos)

 

Dr Dyllon Randall, yang bekerja di proyek tersebut, mengatakan, "Jika klien menginginkan batu bata yang lebih kuat dari batu bata kapur 40%, kami akan membiarkan bakteri membuat zat padat menjadi lebih kuat dengan 'menumbuhkan' lebih lama.

“Semakin lama Anda membiarkan bakteri kecil membuat semen, semakin kuat produk yang dihasilkan. Kami dapat mengoptimalkan proses itu."

Terlebih lagi, dalam proses pembuatan batu bata, nitrogen dan kalium juga diproduksi, yang dapat digunakan sebagai pupuk komersial.

Secara keseluruhan, ini secara efektif tidak akan menghasilkan limbah.

Dr Randall berkata, “Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana melakukannya dengan cara yang optimal sehingga keuntungan dapat dihasilkan dari urine."

Saat ini, rintangan terbesar adalah penerimaan sosial untuk menggunakan urine manusia.

Dr Randall menambahkan, “Saat ini kami hanya berurusan dengan pengumpulan urine dari urinal pria karena itu diterima secara sosial. Tapi bagaimana dengan separuh populasi lainnya?" tutupnya.

Berita Terkini