Wanita

Hari Perempuan Internasional, Pakar PBB Perangi Anggapan Tabu ke Menstruasi

Menstruasi seharusnya bukanlah hal yang tabu lagi.

Vika Widiastuti | Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana

Ilustrasi Hari Perempuan Internasional - (Pixabay/OpenRoadPR)
Ilustrasi Hari Perempuan Internasional - (Pixabay/OpenRoadPR)

Himedik.com - Tujuh pakar hak-hak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan seruan keras pada Selasa (5/3/2019) untuk menghabus anggapan tabu terhadap kesehatan menstruasi. Anggapan tabu ini masih menyerang beberapa perempuan di banyak belahan dunia, sehingga sekelompok pakar ini melakukan tindakan nyata untuk mengakhiri diskriminasi yang "melemahkan".

"Norma-norma sosial-budaya, stigma, kesalahpahaman, dan tabu yang berbahaya terhadap menstruasi terus menyebabkan pengucilan dan diskriminasi perempuan dan anak perempuan," kata pakar hak asasi manusia independen, menjelang Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret, dikutip dari situs resmi un.org, Selasa (5/3/2019).

Di beberapa negara, kata para ahli ini, wanita yang sedang mengalami menstruasi selalu dianggap "terkontaminasi dan tidak murni" dan sering dibatasi serta dilarang untuk melakukan kegiatan seperti menyentuh air atau memasak, menghadiri upacara keagamaan dan budaya, atau kegiatan masyarakat lainnya.

Perempuan yang sedang haid bahkan ada yang dibuang ke sebuah tempat terbuka sesuai dengan adat. Para wanita yang menjadi korban pun menderita kedinginan dan isolasi, yang sering kali menyebabkan risiko penyakit dan serangan yang mengancam jiwa.

Situs resmi PBB menuliskan, banyak perempuan tak memiliki privasi untuk membersihkan diri, akses ke toilet yang aman dan bersih, atau bahkan fasilitas sanitasi yang terpisah di tempat kerja, di ruang kelas, atau di lembaga publik lainnya.

Ilustrasi wanita haid - (Shutterstock)
Ilustrasi wanita haid - (Shutterstock)

 

Selain itu, produk-produk sanitasi yang higienis seringkali terlalu mahal, bahkan tak bisa digunakan banyak perempuan, terutama yang hidup dalam kemiskinan dan situasi krisis. Kebijakan negara pun jarang mengatasi masalah ini.

"Stigma seputar menstruasi memiliki dampak kesehatan yang signifikan pada kesehatan perempuan dan anak perempuan", tegas para ahli.

Mereka juga menunjukkan bahwa masalah serius terkait menstruasi sering diabaikan, dengan alasan, perlu beberapa tahun untuk mendiagnosis endometriosis dan dismenore, gangguan nyeri yang bisa memengaruhi kesuburan.

Karena stigma dan kurangnya pendidikan seksual, pengetahuan soal menstruasi pun masih terbatas.

Selain itu, beberapa negara menilai, jika seorang perempuan sudah memasuki siklus pertama menstruasi, berarti dia sudah siap menikah. Perspektif ini menyebabkan peningkatan pada risiko kehamilan remaja dan membatasi pendidikan serta peluang kerja anak perempuan.

Para ahli menyatakan, "Perubahan global dalam budaya diperlukan untuk menghormati menstruasi, mengakuinya sebagai masalah hak asasi manusia, dan menghapus diskriminasi, rasa malu, serta stigma yang terlalu sering melekat pada kesehatan menstruasi."

Berita Terkait

Berita Terkini