Wanita

Stres pada Ibu Hamil Tingkatkan Risiko Kelahiran Prematur hingga Keguguran

Seorang petugas Pemilu 2019 yang hamil mengalami keguguran diduga akibat tekanan yang luar biasa selama bekerja.

Vika Widiastuti | Shevinna Putti Anggraeni

Ilustrasi hamil. (Pixabay/tasha)
Ilustrasi hamil. (Pixabay/tasha)

Himedik.com - Tingginya angka kematian petugas Pemilu 2019 yang mencapai 440 jiwa cukup menyita perhatian. Salah satu korbannya seorang perempuan hamil yang mengalami keguguran akibat tekanan besar.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Abdul Gaffar Karim, Koordinator Kajian Pemilu FISPOL UGM saat konferensi pers 'FISIPOL UGM Inisiasi Riset tentang Kejadian Sakit dan Meninggalnya Petugas Pemilu 2019' di Digilib Cafe FISIPOL UGM, Kamis (9/5/2019).

Pihaknya yang akan membentuk tim riset untuk kasus tersebut menyatakan penyebab keguguran petugas Pemilu 2019 yang hamil karena tekanan besar selama bekerja.

"Kejadian yang luput diketahui oleh publik bukan hanya sakit dan meninggal. Kami memperoleh 2 informasi bahwa ada perempuan hamil yang sedang bertugas mengalami keguguran karena tekanan yang luar biasa," ujarnya.

Ilustrasi keguguran - (Pixabay/TanteTati)
Ilustrasi keguguran - (Pixabay/TanteTati)

 

Sebuah tim ilmuwan dari Tufts University dilansir dari fairygodboss.com pernah melakukan penelitian tentang kaitannya risiko keguguran dengan tekanan berlebih atau stres.

Secara medis dikenal sebagai aborsi spontan. Ketika otak stres akan melepaskan hormon stres yang dikenal sebagai hormon pelepas kortikotropin (CRH). Hormon stres ini juga diproduksi di plasenta dan rahim wanita hamil untuk memicu kontraksi.

Penelitian menunjukkan bahwa bahan kimia ini dapat diproduksi tubuh secara khusus menargetkan sel mast yang berlimpah di rahim. Kondisi itulah yang bisa memicu bahan kimia penyebab keguguran.

Sayangnya, belum ada banyak penelitian tentang hubungan antara stres dan keguguran dan risiko keguguran pada wanita dengan tingkat stres yang tinggi.

Namun, bagaimana wanita hamil merespons stres, di sisi lain, tentunya dapat memengaruhi kehamilan dan bahkan mengakibatkan keguguran.

Melansir dari hellosehat.com, stres pada ibu hamil ini juga meningkatkan risiko kelahiran prematur dan memengaruhi kesehatan anak setelah lahir.

Ahli ginekologi mengatakan bahwa bayi merupakan ‘cetakan’ dari gen dan DNA orang tuanya. Oleh karena itu stres yang dialami ibu, dapat menyebabkan ‘sindrom stres’ juga pada janin yang dikandungnya.

Ketika ibu hamil mengalami stres, maka berbagai fungsi fisiologis tubuhnya akan berubah, termasuk perubahan kadar hormon.

Berita Terkait

Berita Terkini