Wanita

Dua Minggu Sembeli, Wanita Ini Malah Amnesia Setelah BAB, Kok Bisa?

Ia kehilangan 10 tahun ingatannya setelah buang air besar di rumah.

Vika Widiastuti | Rosiana Chozanah

Membawa smartphone ke toilet. (shutterstock)
Membawa smartphone ke toilet. (shutterstock)

Himedik.com - Sembelit tak hanya membuat tak nyaman, tetapi juga bisa berisiko. Saat kotoran sulit keluar, kita akan mengerahkan tenaga ekstra. Namun, hal tersebut justru berbahaya.  

Seperti yang dialami oleh ibu dari seorang wanita asal Hong Kong ini. Ia kehilangan 10 tahun ingatannya setelah buang air besar di rumah.

Dilansir World of Buzz dari China Times, warganet yang membagikan kisahnya ini mengatakan sang ibu sudah mengalami sembelit selama 2 minggu. Menurut ibunya hal ini sangat tidak nyaman.

Kemudian ketika sang ibu ke toilet untuk buang air kecil, ia justru menghabiskan waktu lama di dalam.

 

Anehnya, ketika keluar sang ibu justru menderita amnesia.

Anggotanya keluarga menemukan bahwa dia telah melupakan semua yang terjadi selama 10 tahun terakhir. Dan hal ini berlangsung selama 8 jam.

Pihak keluarga yang khawatir pun membawa sang ibu ke rumah sakit, berpikir ada sesuatu yang salah dengan otaknya.Tapi ketika dokter memeriksanya, mereka menemukan otak sang ibu berfungsi secara normal.

Sang ibu juga tidak sadar bahwa dirinya sempat mengalami amnesia sementara dan sumber hilangnya ingatan menjadi misteri. Hingga akhirnya ahli bedah saraf menjelaskan hal ini kemungkinan disebabkan oleh masalah sembelitnya.

Rupanya, sang dokter menjelaskan, amnesia ini dialaminya karena kekuatan berlebihan yang sang ibu lakukan ketika dia ingin buang air besar selama sembelit.

Kekuatan yang berlebihan ini menyebabkan peningkatan tekanan perut dan intra-serebral yang menyebabkan kurangnya aliran oksigen ke otaknya, yang mengakibatkan hilangnya ingatan jangka pendek.

Dokter juga mengatakan bahwa orang yang sangat emosional atau sering membawa benda berat memiliki risiko lebih tinggi menderita amnesia sementara.

Dia menyarankan mereka yang mengalami situasi serupa untuk selalu memeriksakan dirinya. Dia menambahkan, orang-orang ini 30% lebih mungkin untuk mengalami stroke dibandingkan dengan orang biasa.

Berita Terkait

Berita Terkini