5 Kondisi Umum yang Terjadi Saat Persalinan namun Sering Diabaikan

Beberapa di antaranya umum dan tidak berbahaya.

Vika Widiastuti | Rosiana Chozanah
Rabu, 23 Oktober 2019 | 12:00 WIB
5 Kondisi Umum yang Terjadi Saat Persalinan namun Sering Diabaikan

5 Kondisi Umum yang Terjadi Saat Persalinan namun Sering Diabaikan

himedik.com - Kontraksi, nyeri dan epidural, dan hal-hal umum lain yang berhubungan dengan melahirkan mungkin terdengar familiar di telinga kita.

Nyatanya masih ada hal-hal kecil yang sebenarnya dapat terjadi selama persalinan dan seringnya tidak diperhatikan. Beberapa di antaranya umum dan tidak berbahaya, sementara lainnya membutuhkan perawatan yang mendesak.

Dari vagina robek, buang air besar ke melahirkan cepat, ada sedikit hal yang justru membuat persalinan jauh lebih 'mendebarkan'. Berikut di antaranya, melansir Parents.

1. Buang air besar selama melahirkan

Otot yang digunakan saat buang air besar, juga akan digunakan selama melahirkan. Sehingga ada kemungkinan seorang wanita BAB, walau sedikit, selama bersalin.

"Ini adalah hal yang umum bagi wanita untuk buang air besar selama persalinan dan berarti otot-otot digunakan untuk mendorong bayi keluar adalah tepat," kata Nita Landry, MD, seorang ob-gyn sekaligus co-host acara The Doctor.

Landry menambahkan, epidural juga dapat meningkatkan kemungkinan pergerakan usus yang tidak terkendali.

Ilustrasi melahirkan (Pixabay/9092)
Ilustrasi melahirkan (Pixabay/9092)

2. Mual dan muntah

Tidak hanya terjadi selama kehamilan, mual dan muntah dapat terjadi selama persalinan. Terutama selama tahap aktif dan ketika sang Ibu mendorong bayi keluar.

"Ketika wanita mendapat epidural, mereka mengalami penurunan tekanan darah yang dapat menyebabkan muntah," kata Sherry Ross, MD, seorang ob-gyn dan ahli kesehatan wanita di Pusat Kesehatan Providence Saint John di Santa Monica, California.

Baca Juga: Rahimnya DItarik Dokter Saat Melahirkan, Wanita Ini Meninggal Dunia

3. Persalinan lama

Tahap persalinan pertama meliputi fase laten (persalinan dini), fase aktif, dan fase transisi. Tetapi terkadang fase-fase ini tidak terjadi secepat yang seharusnya.

"Persalinan laten yang berkepanjangan bisa melelahkan dan terkadang membuat frustrasi calon ibu, tetapi jarang menyebabkan komplikasi dan tidak boleh menjadi indikasi untuk kelahiran sesar," jelas Landry.

4. Robeknya vagina (Ruptur perineum)

Perineum, daerah antara vagina dan anus, dapat robek saat persalinan apabila lubang vagina tidak cukup lebar.

"Sekitar 90 persen wanita mengalami robekan vagina selama persalinan. Robekan tingkat pertama atau kedua mungkin hanya menyebabkan ketidaknyamanan kecil dalam beberapa minggu, namun robekan tingkat ketiga atau keempat membutuhkan waktu lebih dari beberapa minggu untuk sembuh," imbuh Landry.

Ilustrasi perempuan melahirkan (Shutterstock)
Ilustrasi perempuan melahirkan (Shutterstock)

5. Retensi plasenta

Keluarnya bayi bukanlah akhir dari persalinan. Biasanya beberapa wanita akan mengalami retensi plasenta, atau kondisi ketika plasenta masih berada di dalam rahim.

"Hal yang normal saat mengalami kontraksi untuk melanjutkan postpartum, karena tubuh perlu mengeluarkan plasenta dari rahim. Kontraksi juga diperlukan untuk mengurangi jumlah pendarahan postpartum," sambung Landry.

"Pengeluaran plasenta sering terjadi dengan sendirinya dalam 30 menit setelah persalinan karena plasenta terpisah dari dinding rahim dan didorong keluar dengan kontraksi," lanjutnya.

×
Zoomed
TERKINI
Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan untuk mengetahui menstruasi normal atau tidak....
wanita | 08:00 WIB
Hipertensi kehamilan sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal....
wanita | 08:00 WIB
Mulas saat hamil adalah keluhan yang sering dialami oleh ibu hamil....
wanita | 08:00 WIB
Selain untuk mengatasi nyeri haid, banyak dari obat herbal ini juga memberikan manfaat tambahan....
wanita | 08:00 WIB
Bukan hanya bermanfaat bagi ibu hamil, pemberian vaksinasi influenza juga akan berpengaruh pada bayi....
wanita | 10:00 WIB