Wanita

Naluri Sang Perias Jenazah, Memoles Wajah dengan Ketulusan

Kisah Bu Cuthut, sang perias jenazah Yogyakarta yang bekerja dengan ketulusan demi memanusiakan manusia hingga akhir hayat.

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni

Sri Mujiati, perias jenazah di RS Bethesda Yogyakarta. (Himedik.com/Ema Rohima)
Sri Mujiati, perias jenazah di RS Bethesda Yogyakarta. (Himedik.com/Ema Rohima)

Himedik.com - SUASANA MENDADAK BERUBAH, ketika keluarga melihat wajah jenazah gadis 12 tahun yang sangat cantik setelah dipoles Sri Mujiati sebelum disemayamkan.

"Loh De (Bude), kok cantik banget anak saya," ujar seorang pria ketika melihat penampilan jenazah anak perempuan yang dirias oleh Sri Mujiati.

Sri Mujiati, wanita 60 tahun ini lebih dikenal dengan panggilan Bu Cuthut. Ia adalah seorang perawat sekaligus petugas jenazah di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.

Suatu hari, ia mengurus jenazah anak perempuan dari memandikan hingga merias. Pihak keluarga seketika terkejut dan haru melihat penampilan jenazah sangat cantik ketika hendak disemayamkan.

"Lah Kung, wayah iku cantik lo Kung (Loh Kung, anak ini memang cantik loh Kung)," katanya menenangkan keluarga yang tengah terharu melihat jenazah gadis 12 tahun, penderita hidrosefalus.

"La mau ngene iki buka iki lo mulute. Aku wes waduh iso ora iki. Lah kok cantik banget (La tadi ini begini mulutnya terbuka lo. Aku sudah berpikir ini bisa atau tidak. Lah kok jadinya ternyata cantik banget)," ujar keluarga jenazah yang masih terharu dengan hasil riasan Bu Cuthut.

"De, ya ampun De, mulus banget ya De, tenan lo De," ujar keluarga jenazahnya lagi pada Bu Cuthut.

"Aslinya Kung, wayah itu memang cantik, wayah cantik (Aslinya Kung, anak ini memang cantik, dia itu cantik)," kata Bu Cuthut yang mengaku tidak bisa membuat jenazah cantik hanya dengan polesannya.

Berawal dari Panggilan Hati

Sore itu, Selasa (20/8/2019) sekitar pukul 17.00 WIB, saya bertemu Bu Cuthut di ruang Bidang Perawatan RS Bethesda. Ia menceritakan pekerjaannya sebagai perawat di RS Bethesda selama 37 tahun, dimulai sejak 1982.

Bu Cuthut setelah memandikan jenazah (HiMedik/Shevinna Putti)
Bu Cuthut setelah memandikan jenazah (HiMedik/Shevinna Putti)

Masih mengenakan seragam perawat, ia mengajak duduk di sofa depan ruang Bidang Perawatan. 

Ia mulai menceritakan pengalaman pertamanya menjadi seorang perawat. Sampai pekerjaan itu membuka hatinya untuk sekaligus mengurus dan merias jenazah di rumah sakit.

"Ya karena munculnya seperti itu (keinginan mengurus jenazah) ya memang harus dari hati to," katanya sambil menatapku dan meletakkan salah satu telapak tangannya di dada pertanda ketulusan.

Sebenarnya wanita berperawakan kurus ini lupa tahun berapa mulai mengurus jenazah. Tetapi, ia masih ingat betul ketika itu masih karyawan baru, bangunan rumah sakit masih lawas dan rumah duka belum beroperasi.

"Saya awalnya tidak sekadar itu. Tapi masak iya semua orang akan tega, kan dari ora tegel (nggak tega) ya bakalan tega to. Ya saya belajar dari semua orang merasa ora tegel kalau mengurus jenazah itu," katanya dengan gestur tangannya selayaknya orang sedang bercerita.

Saat itu banyak orang di sekitarnya yang tidak tega ketika harus mengurus jenazah. Fenomena seperti itu membuat Bu Cuthut berpikir siapa yang akan mengurus jenazah. Padahal jenazah juga manusia yang juga perlu diperhatikan. Mulai saat itulah, Bu Cuthut mulai mencari buku tentang dasar-dasar mengurus jenazah, dari memandikan hingga merawat jenazah.

"Kan saya perawat, wah enggak ada jeleknya kalau kita perawat kalau memandikan orang meninggal. Secara umum saya juga punya SOP untuk memandikan orang hidup. Tidak ada bedanya," ujarnya dengan raut wajah bangga akan profesinya.

"Awalnya saya dari memandikan dari keluarga karyawan yang meninggal di ruangan rawat inap. Saya mandikan di ruangan, belum dibawa ke rumah duka. Waktu itu karena belum ada bangunannya. Sampai akhirnya bangunan rumah duka itu diperbaiki. Akhirnya tim petugas jenazah berjalan," ceritanya sambil sesekali bola matanya mengarah ke kanan atas karena mengingat masa lalu.

Mengajak Bicara Jenazah

Lebih dari 30 tahun, ia mengaku sudah menangani puluhan jenazah dengan segala kondisi. Mulai jenazah yang luka parah hingga menderita penyakit kronis.

Tetapi, Bu Cuthut tidak pernah mundur untuk menangani kondisi jenazah seperti apapun. Ia tetap mengurus jenazah sampai bersih, tidak berbau dan rapi ketika akan disemayamkan.

"Sebetulnya jenazah yang luka parah banyak sih ya. Kayak jenazah yang punggungnya sampai luka parah. Seperti pasien stroke yang sudah lama tiduran dan sampai ke tulangnya," ceritanya sambil kedua tangannya seolah menggambarkan lingkaran di punggung.

"Bahkan ada yang sakit sampai kakinya luka parah, bahkan maaf perlu penanganan luka yang khusus ya banyak yang seperti itu. Ya itulah tugas kita gimana membuat itu supaya kondisinya terlihat baik," tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa memandikan jenazah juga tak boleh sembarangan. Memandikan jenazah harus sampai bersih tetapi juga tidak boleh terlalu kasar. Karena petugas tidak boleh melukai atau menambah sakit jenazah meskipun sudah meninggal.

<p>Ilustrasi mayat - (Shutterstock)</p>

Ilustrasi mayat - (Shutterstock)

 

Selain itu, petugas juga harus memakai APD (Alat Pelindung Diri) yang menutup hampir seluruh badan hingga kepala ketika menangani jenazah. Hal ini untuk melindungi diri dari sesuatu yang tidak diinginkan, meski virus atau apapun akan mati ketika orang sudah meninggal.

"Jadi sudah pernah juga mengurus jenazah yang wajahnya sudah luka-luka? Gimana meriasnya?" tanyaku.

"Weh ya banyak yo. Ya pokoknya prinsip adalah bersih. Saya sebenarnya nggak bisa merias, tapi harus bersih. Ya kalau jenazahnya wanita ya kayak kita-kita inilah pakai alas bedak, foundation ya disesuaikan lah," kata Bu Cuthut yang sempat sungkan disebut perias jenazah karena merasa tidak pandai dalam hal merias.

Menurutnya, bukan ia yang membuat jenazah terlihat tampan dan cantik. Tetapi, jika ia melakukannya dengan senang hati maka raut jenazah juga pasti akan terlihat tenang ketika kembali kepada Tuhan.

Setiap kali akan mengurus jenazah, Bu Cuthut juga selalu berdoa. Ia juga akan mengajak bicara jenazah sebagai bentuk kulo nuwun alias permisi.

"Prinsip semua agama pasti sebelum kita memandikan jenazah kan doa to. Doa untuk kelancaran itu pasti. Ya sudah yang penting kita ajak bicara (jenazah) to," katanya.

"Oh, ibu ajak bicara juga jenazahnya?" tanyaku penasaran mengapa Bu Cuthut mengajak bicara jenazah.

"Ya, iya to. Saya mesti ajak bicara dengan jenazahnya. Misalnya "bu atau pak, maaf ya saya pakaikan baju dulu ya, biar cakep ya". Ya kita bicara seperti itu saja," ujar Bu Cuthut memeragakan gayanya ketika sedang memandikan dan merias sambil mengajak bicara jenazah.

"Kan biasanya kita berdua (memandikan jenazah). Nanti ya yang jawab teman saya, misal 'inggih bu (iya bu)'. Ya seperti itu," sambungnya.

"Kita tetap harus ngajak bicara. Pak ngangge ageman nggih, kersanipun sae, nderek gusti kok pak (Pak pakai pakaian dulu ya, supaya baik atau rapi kembali ke Tuhan kok pak), seperti itu," lanjutnya.

Bu Cuthut juga mengaku sering mendengar bunyi klek ketika mengurus jenazah. Tetapi, bunyi tersebut bukan berarti hal gaib atau semacamnya.

"Tak ceritani, bunyi klek itu kan bukan masalah belum mati, itu kan bisa suara sendi to," katanya.

Bu Cuthut menunjukkan ruang pemandian jenazah di RS Bethesda (HiMedik/Shevinna Putti)
Bu Cuthut menunjukkan ruang pemandian jenazah di RS Bethesda (HiMedik/Shevinna Putti)

 

Selalu Siap Sedia

Puluhan tahun berpengalaman mengurus hingga merias jenazah, Bu Cuthut sudah dikenal hampir seluruh gereja di Jogja. Banyak orang yang sering menghubungi dan meminta pertolongannya untuk merias jenazah.

Bu Cuthut lantas menceritakan jenazah gadis 12 tahun yang meninggal karena sakit. Saat itu pihak keluarga terharu melihat penampilan akhir jenazah gadis 12 tahun tersebut.

Ada pula seseorang yang meminta bantuan Bu Cuthut untuk memperbaiki riasan jenazah keluarganya. Orang tersebut merasa raut wajah jenazah seperti murung meski sudah dibersihkan dan dirias oleh orang lain.

Setelah Bu Cuthut datang dan membantu, pihak keluarga sangat senang melihat raut wajah jenazah sudah tidak murung.

"Ha, ini baru kelihatan kalau om ****. Lah tadi kayak merengut (murung), ini enggak, baru kelihatan kalau om ****," ujar Bu Cuthut menirukan orang yang saat itu meminta bantuannya.

Bahkan pengalaman selama puluhan tahun ini juga membuat naluri Bu Cuthut sebagai petugas jenazah semakin kuat. Setiap kali pergi melayat, ia selalu membawa tas besar yang berisi perlengkapan untuk membersihkan dan merias jenazah.

Sehingga ketika ia sampai di tempat duka dan diminta bantuan, sudah siap dengan segala peralatannya. Bahkan jika jenazah masih kerabat dekatnya, ia akan selalu memastikan bahwa penampilan jenazah sudah bersih dan rapi.

Ketulusan Mengurus Jenazah

Pertemuanku dengan Bu Cuthut selama kurang lebih 1,5 jam sempat terpotong beberapa kali karena ia harus mengangkat telepon. Kegiatan Bu Cuthut memang sangat sibuk, bahkan jadwalnya tak bisa terprediksi.

Wanita 60 tahun ini sempat menceritakan betapa sibuk kesehariannya. Ia sering mengurus jenazah hingga pukul 4 pagi. Tetapi, saya tidak pernah mendengar ia mengeluh selama perbincangan.

"Pokoknya saya menjalankan pekerjaan ini tulus. Mbok (Meskipun) jam 1 atau jam 2 malem wes (sudah) pokoknya tak kerjakan," katanya dengan gestur tangan ke dada.

"Kalau kita berpikir ini baik, baik, baik. Hati itu rasanya nah (lega)," sambungnya.

Berita Terkait

Berita Terkini