Berikan yang Terbaik, Pola Makan Bayi Pengaruhi Kesehatan Jangka Panjangnya

Selama 1.000 hari awal kehidupan sang bayi adalah hal yang penting.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
Selasa, 21 Juli 2020 | 15:30 WIB
Berikan yang Terbaik, Pola Makan Bayi Pengaruhi Kesehatan Jangka Panjangnya

Berikan yang Terbaik, Pola Makan Bayi Pengaruhi Kesehatan Jangka Panjangnya

himedik.com - Para ahli baru saja melapor ke Departemen Kesehatan & Layanan Kemanusiaan AS dan Departemen Pertanian AS tentang bagaimana pola makan memengaruhi kesehatan jangka panjang bayi nantinya.

Laporan itu juga menegaskan pola makan sehat dari lahir hingga 24 bulan mendukung pertumbuhan dan perkembangan selama masa bayi, kanak-anak, remaja, hingga dewasa.

Para ahli juga menyatakan 1.000 hari pertama kehidupan tidak hanya berkontribusi pada kesehatan jangka panjang tetapi juga membantu membentuk preferensi rasa dan pilihan makanan.

"Paparan nutrisi kehidupan awal telah muncul sebagai faktor risiko etiologis (penyebab penyakit) yang terkait dengan penyakit kronis di kemudian hari," kata ahli, dilansir Fox News.

Berikut adalah enam poin utama yang dicatat oleh Dietary Guidelines Advisory Committee 2020 terkait dengan kebiasaan makan bayi:

Ilustrasi bayi makan yogurt. (Shutterstock)
Ilustrasi bayi makan (Shutterstock)

1. Sama sekali tidak ada tambahan gula untuk bayi

"Bayi harus menghindari makanan dan minuman dengan tambahan gula selama dua tahun pertama kehidupannya. Energi dalam produk-produk tersebut kemungkinan akan menggantikan energi dari makanan padat nutrisi, meningkatkan risiko kekurangan gizi," kata ahli.

Para ahli membuat hubungan antara konsumsi minuman olahan yang dimaniskan dengan kelebihan berat badan atau obesitas.

Mereka mengatakan hampir 70 persen gula tambahan berasal dari produk-produk seperti minuman manis, makanan penutup, makanan ringan manis dan sereal sarapan.

2. ASI lebih baik

"Bukti terkuat yang ditemukan adalah mengonsumsi ASI mengurangi risiko obesitas, diabetes tipe 1, dan asma dibandingkan dengan tidak pernah disusui," jelas ahli.

Baca Juga: Bayi Baru Lahir Positif Covid-19, Bukti Ada Penularan Virus di Rahim!

Mereka menemukan kenaikan berat badan yang cepat lebih mungkin terjadi pada bayi yang diberi susu formula.

Ilustrasi bayi makan cokelat - (Pixabay/freestocks-photos)
Ilustrasi bayi makan cokelat - (Pixabay/freestocks-photos)

3. Tidak ada makanan padat untuk bayi sebelum mereka berusia 4 bulan

Penelitian menunjukkan memulai makanan pertama bayi sebelum ambang batas empat bulan dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas antara usia 2 dan 12 tahun.

4. Kenalkan kacang dan telur lebih awal untuk mengurangi alergi

Menurut ahli, memberi makan kacang dan telur 'di usia yang sesuai' setelah usia empat bulan dapat mengurangi risiko alergi makanan.

5. Berikan vitamin D dan perhatikan zat besi dan seng

Karena ASI tidak mengandung cukup vitamin D, ahli merekomendasikan agar bayi yang diberi ASI penuh dan sebagian ditambah vitamin D 400 IU sejak lahir sampai mereka disapih.

Tak hanya itu, makanan seperti daging yang kaya zat besi dan seng selama enam bulan kedua kehidupan bayi juga sangat penting. Ini diperkaya dengan sereal bayi yang mengandung nutrisi tersebut.

×
Zoomed
TERKINI
DBD bisa menyerang siapa saja, di mana saja terlepas dari tempat tinggal, usia, atau gaya hidup....
anak | 10:39 WIB
Issa Xander cuma punya paspor Amerika Serikat....
anak | 10:00 WIB
Ketidakseimbangan pada hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid dapat terjadi akibat pola makan yang tidak sehat....
anak | 07:00 WIB
Di Indonesia tak ada vaksin khusus HMPV seperti halnya vaksin covid-19 dan semacamnya....
anak | 10:00 WIB
Penelitian menyatakan bahwa pola makan rendah asupan serat merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko te...
anak | 07:00 WIB