Info

Teh Kratom, Teh Herbal yang Bunuh Hampir 100 Orang dalam 18 Bulan

Ini yang perlu kamu tahu tentang obat yang telah ada di 27 negara.

Vika Widiastuti | Yuliana Sere

Ilustrasi minum teh (Pixabay/Raychan)
Ilustrasi minum teh (Pixabay/Raychan)

Himedik.com - Kratom dikenal sebagai salah satu teh herbal, bahkan sudah banyak resep untuk teh ini yang dikatakan dapat menyembuhkan kecemasan dan depresi terhadap obesitas.

Sayangnya, para ahli memperingatkan bahwa kekuatan penyembuhannya belum didukung oleh sains, dikutip dari health.

Namun, peneliti sekarang telah memiliki gambaran yang lebih lengkap tentang kerusakan yang dapat dilakukan kratom, yang sering dikaitkan dengan opioid.

Sebuah laporan baru dari CDC mengungkapkan bahwa hanya dalam 18 bulan, dari Juli 2016 hingga Desember 2017, setidaknya 91 orang meninggal karena overdosis kratom di AS.

Selama periode itu, 152 orang ditemukan memiliki kratom dalam sistem mereka ketika mereka mati. Dalam 91 kasus tersebut, tujuh di antara orang-orang itu hanya dinyatakan positif kratom tanpa ada zat lain.

Tahun lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) mengatakan, telah menjangkau beberapa vendor kratom, memperingatkan mereka untuk berhenti mengiklankan kekuatan kratom secara salah.

FDA mengatakan, obat itu telah dikaitkan dengan pengobatan depresi, diare, obesitas, diabetes, parasit lambung, tekanan darah tinggi, kecemasan, divertikulitis dan alkoholisme.

Ilustrasi kratom. (Unsplash/Joaquim Salat)
Ilustrasi kratom. (Unsplash/Joaquim Salat)

 

"Sains dan bukti penting dalam menunjukkan manfaat medis, terutama ketika suatu produk dipasarkan untuk mengobati penyakit serius seperti gangguan penggunaan opioid," kata FDA dalam sebuah pernyataan tahun lalu.

"Namun, sampai saat ini, belum ada studi ilmiah yang memadai dan terkontrol dengan baik yang melibatkan penggunaan kratom sebagai pengobatan untuk penghentian penggunaan opioid atau penyakit lain pada manusia."

Sementara itu, ada efek samping dari kratom, seperti muntah, kedinginan, mual, penurunan berat badan, kerusakan hati, mulut kering, dan nyeri otot.

Kratom juga dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang lebih serius seperti halusinasi, kantuk, pusing, depresi, dan kejang.

Meskipun kratom, yang berasal dari tanaman yang tumbuh di Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Papua Nugini, belum dilarang secara federal, segelintir negara telah melarang zat itu.

Ini awalnya dipasarkan sebagai obat untuk kecanduan opioid, yang memberi harapan kepada negara di mana hampir 400 ribu telah meninggal karena overdosis opioid sejak 1999.

Berita Terkait

Berita Terkini