Info

Akan Mulai Diterapkan, Benarkah Sinyal Jaringan 5G Berdampak ke Kesehatan?

Benarkah jaringan 5G berdampak pada kesehatan?

Vika Widiastuti

Ilustrasi jaringan 5G. (Pixabay/mohamed_hassan)
Ilustrasi jaringan 5G. (Pixabay/mohamed_hassan)

Himedik.com - Diprediksi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), pada 2020 jaringan internet generasi kelima atau 5G akan mulai diterapkan. Bahkan di beberapa negara jaringan 5G telah mulai diterapkan. Beberapa gadget pun telah dilengkapi chipset yang mendukung konektivitas 5G. 

Namun dilansir Suara.com dari laman Medical Daily, kritikus kesehatan dari University of California, Los Angeles, mengatakan bahwa hadirnya jaringan internet 5G dapat menimbulkan risiko kesehatan. Dengan masuknya jaringan ini di seluruh dunia, Dr. Leeka Kheifets, PhD, seorang profesor epidemiologi di UCLA, mengatakan bukan tidak mungkin akan membawa risiko kesehatan terkait paparan radiasi elektromagnetik yang berlebihan.

Dr. Kheifets mengakui banyak penelitian yang perlu dilakukan sebelum mereka dapat mengatakan bahwa radiasi ponsel menyebabkan kanker. Tetapi pertanyaan yang mereka ajukan adalah, haruskah manusia menjadi kelinci percobaan?

Gadget/unsplash
Gadget/unsplash

 

"Saya memang belum menemukan bukti pasti bahwa ada risiko kesehatan, tetapi juga bukan tidak mungkin jaringan 5G ini menimbulkan risiko kesehatan," kata Dr. Kheifets.

Sebuah studi 2018 yang diterbitkan dalam jurnal Health Physics menemukan bahwa ledakan transfer data yang sangat cepat pada suatu perangkat sebagai akibat dari teknologi 5G dapat menyebabkan jaringan kulit terbakar.

Studi ilmiah lain yang diterbitkan pada 2018 menunjukkan gelombang milimeter frekuensi tinggi (MMW) dari jaringan internet 5G telah dikaitkan dengan implikasi kesehatan yang signifikan. Bukti menunjukkan bahwa MMW meningkatkan suhu kulit, mengubah ekspresi gen, dan mendorong proliferasi sel dan sintesis protein yang terkait dengan stres oksidatif.

Benar atau tidaknya dugaan jaringan 5G dapat berdampak pada kesehatan, semoga saja para peneliti dapat segera menemukan solusinya. (Suara.com/Firsta Nodia)

Berita Terkait

Berita Terkini