Masih Marak di Beberapa Daerah, Sunat Perempuan Bisa Sebabkan Komplikasi

Praktik ini sebenarnya tidak memiliki manfaat kesehatan dan justru membahayakan.

Vika Widiastuti | Rosiana Chozanah
Kamis, 03 Oktober 2019 | 22:00 WIB
Masih Marak di Beberapa Daerah, Sunat Perempuan Bisa Sebabkan Komplikasi

Masih Marak di Beberapa Daerah, Sunat Perempuan Bisa Sebabkan Komplikasi

himedik.com - Praktik sunat perempuan ternyata masih marak dilakukan di Indonesia, terutama di luar Pula Jawa. 

Berdasarkan studi nasional pada 2013 (riskesdas), sebanyak 51,2% anak perempuan usia 0-11 tahun telah disunat, dengan Gorontalo menjadi provinsi dengan presentase tertinggi (83.7%).

Jika berdasarkan studi yang dilakukan oleh Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada (PSSK UGM) dan Komnas Perempuan pada 2017, istilah sunat perempuan disebut dengan Pemotongan dan Perlukaan Genital Perempuan (P2GP). Nama ini pun sudah diadaptasi oleh Kementerian Kesehatan.

Sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut praktik ini sebagai Female Genital Mutilation (FGM).

Praktik ini terdiri dari semua prosedur yang melibatkan pengangkatan sebagian atau seluruh genitalia eksternal perempuan.

Sri Purwatiningsih saat menjelaskan data sunat pada perempuan Indonesia (Suara.com/Rosiana)
Sri Purwatiningsih saat menjelaskan data sunat pada perempuan Indonesia di ICIFPRH, Selasa (2/10/2019)(Suara.com/Rosiana)

Menurut WHO, praktik ini sebenarnya tidak memiliki manfaat kesehatan dan justru membahayakan. Sebab, praktik ini melibatkan menghilangkan dan merusak jaringan genital wanita yang sehat dan normal.

Bahkan, praktik sunat perempuan ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Seperti sakit parah, pendarahan, pembengkakan jaringan genital, infeksi hingga masalah penyembuhan luka.

Sedangkan beberapa risiko jangka panjang yang dapat terjadi adalah:

- Masalah kemih (sakit saat buang air kecil atau ISK).
- Masalah vagina (keputihan, gatal, vaginosis bakteri dan infeksi lainnya).
- Jaringan parut dan keloid.
- Masalah seksual (nyeri saat berhubungan intim, penurunan kepuasan, dll).
- Masalah psikologis (depresi, kecemasan, gangguan stres pasca-trauma, self-esteem).

Baca Juga: Tren Tamanu Oil, Ternyata Bisa Atasi Bekas Luka dan Masalah Organ Intim!

×
Zoomed
TERKINI
Mulailah dengan jumlah langkah yang lebih rendah dan tingkatkan secara bertahap agar tubuh bisa beradaptasi dengan baik....
info | 08:00 WIB
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB