Studi Ungkap Asupan Tinggi Garam Bisa Sebabkan Gangguan Kognitif, Waspada!

Penumpukan protein Tau yang berlebihan disebut sebagai 'ciri khas' alzheimer.

Vika Widiastuti | Rosiana Chozanah
Rabu, 30 Oktober 2019 | 09:30 WIB
Studi Ungkap Asupan Tinggi Garam Bisa Sebabkan Gangguan Kognitif, Waspada!

Studi Ungkap Asupan Tinggi Garam Bisa Sebabkan Gangguan Kognitif, Waspada!

himedik.com - Konsumsi gula dan garam sehari-hari harus dibatasi dan jangan berlebihan. Hal tersebut karena bisa berdampak pada kesehatan, bahkan bisa berbahaya. 

Berdasarkan sebuah penelitian, seseorang yang banyak mengonsumsi garam dapat mendorong penurunan kognitif dengan mengacaukan kadar protein Tau.

Melansir Medical News Today, tingkat protein Tau yang tinggi berkaitan dengan demensia.

Giuseppe Faraco, asisten profesor penelitian dalam ilmu saraf di Feil Family Brain and Mind Research Institute di Weill Cornell Medicine di New York, adalah penulis utama studi ini, yang muncul dalam jurnal Nature Neuroscience.

Peneliti melakukan studi perilaku, serebrovaskular, dan molekuler pada tikus, yang menunjukkan rendahnya kadar oksida nitrat, diinduksi dari konsumsi garam yang tinggi, memengaruhi kadar protein Tau di otak.

Penumpukan protein Tau yang berlebihan disebut sebagai 'ciri khas' alzheimer.

Biasanya protein ini mendukung neuron dengan menstabilkan struktur mikrotubulus, yang mengangkut nutrisi ke akson dan dendrit neuron. Struktur mikrotubulus adalah bagian dari sitoskeleton, atau 'perancah', yang mendukung neuron.

Garam laut. (Shutterstock)
Garam laut. (Shutterstock)

"Tau menjadi tidak stabil dan keluar dari sitoskeleton hingga menyebabkan masalah," jelas Dr. Costantino Iadecola, penulis lain dalam studi ini.

Mereka menambahkan, Tau tidak boleh 'berkeliaran bebas' di dalam sel karena jika terlepas dari sitoskeleton, ia berpotensi untuk menumpuk di otak. Ini dapat menyebabkan kesulitan kognitif.

Untuk menguji lebih lanjut dinamika antara oksida nitrat, protein Tau, dan gangguan kognitif, para ilmuwan menggabungkan pola makan garam tinggi dan membatasi aliran darah dengan antibodi yang menjaga protein Tau terkendali.

Baca Juga: Tren Garam Himalaya, Benarkah Lebih Sehat dari Garam Dapur Biasa?

Hasilnya, tikus-tikus ini menunjukkan fungsi kognitif normal, meski memiliki aliran darah yang terbatas.

"Ini menunjukkan apa yang sebenarnya menyebabkan demensia adalah Tau dan bukan kekurangan aliran darah," sambung Iadecola.

Oleh sebabnya, Iadecola memeringatkan tentang bahaya pola makan tinggi garam dengan melakukan penelitian pada hewan pengerat. Menurutnya, ini adalah pengingat yang baik tentang risiko asupan tinggi natrium pada manusia.

Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mereplikasi temuan tikus pada manusia.

×
Zoomed
TERKINI
Mulailah dengan jumlah langkah yang lebih rendah dan tingkatkan secara bertahap agar tubuh bisa beradaptasi dengan baik....
info | 08:00 WIB
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB