Drone Jadi Jawaban atas Kendala Pengiriman Bantuan Medis

Drone dapat membantu untuk pengiriman logistik kesehatan secara rutin.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
Selasa, 19 November 2019 | 16:54 WIB
Ilustrasi drone untuk logistik kesehatan (Twitter/@Unicef)

Ilustrasi drone untuk logistik kesehatan (Twitter/@Unicef)

Himedik.com - Demi menembus kendala akses layanan kesehatan di daerah terpencil dan kepulauan, Prof. dr. Budu, Med. Phd, SpM(K), Ketua Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI), membuka opsi bantuan teknologi terutama terkait bantuan darah bagi ibu melahirkan dengan pendarahan.

Ia mengambil contoh apa yang telah dilakukan Pemerintah Rwanda dan Ghana, yang bekerjasama dengan sektor privat dan memanfaatkan teknologi drone untuk mengantarkan kantong darah, vaksin dan obat-obatan ke wilayah terpencil.

Solusi ini terbukti dapat meningkatkan akses ketersediaan darah hingga 145% dan membantu menekan angka kematian ibu melahirkan akibat pendarahan di sejumlah rumah sakit di sana.

Prof. Budu mengatakan, cara ini dapat membuat rumah sakit lokal menerima bantuan suplai darah dari Bank Darah Rumah Sakit (BDRS) hanya dalam waktu 15 hingga 20 menit.

"Drone ini dapat terbang sejauh maksimal 80 kilometer dan direncanakan menjangkau 500 pusat layanan kesehatan yang tersebar di berbagai wilayah Ghana. Indonesia dapat belajar dari solusi unik ini," tuturnya, dalam rilis yang diterima Himedik.com, Sabtu (16/11/2019).

pemeriksaan ibu di UPTD PKM Karimunjawa (ID COMM)
pemeriksaan ibu di UPTD PKM Karimunjawa (ID COMM)

Ia menambahkan, drone dapat mengangkut kurang lebih 6 kantong darah dalam sekali pengiriman.

"Kita juga dapat berharap pada frekuensi terbangnya, yaitu maksimal 30 drone dengan selang penerbangan setiap 30 detik. Bayangkan kalau hal ini dapat diadopsi oleh pemerintah kita, dengan mengambil momentum Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional dan Daerah yang baru, maka kendala distribusi kantong dan banyak bantuan medis lainnya dapat terpecahkan secara efektif," lanjutnya.

Menurutnya, transportasi tanpa awak ini dapat bergerak secara gesit dan terbebas dari kendala darat.

"Ia dapat membantu, tidak saja untuk pengiriman logistik kesehatan secara rutin, tetapi juga sebagai alat taktis untuk membantu meredam wabah penyakit yang muncul tiba-tiba, atau pun hal-hal terkait mitigasi bencana alam. Ia dapat melengkapi layanan pengiriman logistik skala besar yang bergantung pada pesawat helikopter," tambahnya lagi.

Prof. Budu mengatakan saat ini pemerintah sedang melakukan kajian independen terkait manfaat ekonomi, sosial dan keamanan nasional terkait rencana operasional drone ini.

Baca Juga: Kondisi Geografis Pengaruhi Angka Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI
VinFast menjadi simbol nyata dari kebangkitan industri hijau Asia Tenggara....
info | 13:30 WIB
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB