Infeksi Covid-19 Parah Bisa Memengaruhi Penderita Penyakit Mental Akut

Gabungan beberapa faktor dapat menempatkan penderita penyakit mental pada risiko tinggi tertular dan menularkan Covid-19.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
Selasa, 14 April 2020 | 13:00 WIB
Infeksi Covid-19 Parah Bisa Memengaruhi Penderita Penyakit Mental Akut

Infeksi Covid-19 Parah Bisa Memengaruhi Penderita Penyakit Mental Akut

himedik.com - Pakar mengatakan orang-orang yang sudah memiliki masalah kesehatan sebelumnya, seperti diabetes dan penyakit jantung adalah yang paling berisiko mengalami sakit parah akibat Covid-19. Tapi, kelompok dengan gangguan penyakit mental parah juga dapat terkena hal yang sama.

Berdasarkan artikel yang terbit di JAMA Psychiatry, menyebut masalah kesehatan mental seringkali bertepatan dengan serangkaian tantangan unik yang menyulitkan orang untuk mengakses kebutuhan, terutama yang paling dasar, seperti makanan, obat-obatan dan perawatan kesehatan.

Gabungan semua faktor ini menempatkan orang dengan penyakit mental parah pada risiko yang jauh lebih tinggi untuk tertular dan menularkan virus corona baru.

Fumi Mitsuishi, direktur UCSF/ZSFG Division of Citywide Case Management di San Francisco mengatakan ada daftar panjang tantangan yang menempatkan orang dengan penyakit mental, seperti skizofrenia, gangguan bipolar atau depresi, dalam risiko tinggi alami Covid-19 parah.

Ilustrasi gangguan jiwa [shutterstock]
Ilustrasi gangguan jiwa [shutterstock]

"Kita berbicara tentang populasi yang berjuang selama dirumahkan, (agar) bisa makan, (agar) bisa menangani masalah medis, (agar) memiliki pendapatan yang cukup," kata Mitsuishi, dikutip Healthline.

Banyak orang yang Mitsuishi lihat di Citywide Case Management berjuang mempertahankan pekerjaan mereka. Beberapa hanya membawa pulang 25 USD (sekitar Rp395 ribu) per minggu setelah membayar sewa rumah.

Tempat tinggal saling berdekatan. Orang-orang tidur berdampingan satu sama lain dan berbagi kamar mandi. Jika satu orang terinfeksi Covid-19, ada kemungkinan virus 'merobek' kelompok ini.

Orang dengan penyakit mental parah seringkali tidak memiliki smartphone, laptop atau TV, sehingga mereka harus bergantung pada dokter kesehatan jiwa untuk mendapatkan pembaruan informasi mengenai Covid-19, kata Dr. Collin Reiff, seorang psikiater spesialis kecanduan di NYU Langone Health.

Ini artinya mereka bisa saja tidak mendapatkan perawatan yang dibutuhkan apabila mereka tidak memiliki akses terhadap teknologi.

Pasien penyalahgunaan zat juga terkait dengan peningkatan kerentanan terhadap penyakit menular. Memungkinkan mereka rentan terhadap perilaku berisiko juga.

Baca Juga: Efek Covid-19 pada Penderita Gangguan Mental Lebih Parah, Kok Bisa?

Ilustrasi kesehatan jiwa, kesehatan mental (Shutterstock)
Ilustrasi kesehatan jiwa, kesehatan mental (Shutterstock)

Reiff mengatakan penyebabnya adalah karena penyalahgunaan zat dapat mencegah orang mengambil langkah keamanan, seperti perawatan diri dan social distancing.

"Usia biologis mereka jauh lebih tua dari usia mereka yang sebenarnya. Pasien kami berada dalam kategori sangat berisiko tinggi mengalami komplikasi dari sebagian besar penyakit, dan Covid-19 adalah salah satunya," tutur Carrie Cunningham, direktur medis di Citywide Case Management.

Pneumonia dan influenza adalah beberapa penyebab utama kematian pada orang dengan penyakit jiwa. Sebagian besar karena penyakit paru-paru yang mendasarinya, tambah Cunningham.

×
Zoomed
TERKINI
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB
Minum air memang benar membantu menghindari penyakit ginjal. Namun.......
info | 08:00 WIB