Virolog Hong Kong Akui Pemerintah China Tutupi Informasi tentang Covid-19

Menurutnya, seharusnya masih ada banyak nyawa yang bisa diselamatkan dari Covid-19.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
Rabu, 15 Juli 2020 | 10:00 WIB
Virolog Hong Kong Akui Pemerintah China Tutupi Informasi tentang Covid-19

Virolog Hong Kong Akui Pemerintah China Tutupi Informasi tentang Covid-19

himedik.com - Yan Li-Meng, virolog asal Hong Kong, mengatakan banyak nyawa pasien Covid-19 yang sebenarnya bisa diselamatkan apabila pemerintah China tidak menutupi informasi tentang pandemi virus corona Covid-19.

"Ini adalah pandemi besar yang kita lihat di dunia," kata Yan, dalam wawancara dengan Bill Hemmer pada Senin (13/7/2020), dikutip dari Fox News.

Menurutnya, pandemi Covid-19 ini lebih dari apa pun yang diketahui dalam sejarah manusia. "Jadi, waktunya sangat, sangat penting. Jika kita bisa menghentikannya lebih awal, kita bisa menyelamatkan nyawa," sambungnya.

Secara terang-terangan, Yan percaya pemerintah China tahu tentang virus corona jauh sebelum mereka mengakui adanya wabah itu di depan umum.

Dia juga mengklaim atasannya, yang dikenal sebagai beberapa ahli andal di lapangan, mengabaikan penelitian yang dia lakukan pada awal pandemi. Ia percaya pengetahuan dari penelitiannya dapat menyelamatkan hidup.

"Saya harus bersembunyi karena saya tahu bagaimana mereka memperlakukan pelapor, dan sebagai pelapor, di sini saya ingin mengatakan kebenaran Covid-19 dan asal-usul SARS-CoV-2," kata Yan.

Yan Li-Meng ahli virologi asal Hong Kong (YouTube/Fox News)
Yan Li-Meng ahli virologi asal Hong Kong (YouTube/Fox News)

Menurutnya, pemerintah Beijing tahu pada Desember yang lalu bahwa lebih dari 40 warga telah terinfeksi virus dan penularan dari manusia ke manusia sudah terjadi pada waktu itu.

Sebuah dokumen milik agen intelijen Five Eyes yang sempat bocor ke surat kabar Australia pada Mei menunjukkan pihak China menyangkal virus dapat menyebar di antara manusia hingga 20 Januari, meski saat itu sudah ada bukti penularan antar manusia dari awal Desember.

Hingga pada 14 Januari pun, Organsisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan belum ada bukti yang jelas untuk penularan Covid-19 antar manusia.

Yan mengatakan dia memiliki catatan komunikasi dengan orang lain di China, tampaknya menggambarkan catatan tersebut sebagai obrolan, dan menggarisbawahi bahwa dia sangat takut dengan hidupnya.

Baca Juga: China Khawatir Wabah Pes dari Mongolia, Waspadai Gejala Infeksinya!

"Aku tahu bagaimana mereka memperlakukan pelapor. (Mereka ingin) membuat orang diam, jika mereka ingin mengungkapkan kebenaran, tidak hanya tentang Covid-19, tetapi juga untuk hal-hal lain yang terjadi di China," lanjutnya.

"Saya menunggu untuk mengatakan semua hal yang saya tahu, memberikan semua bukti kepada Pemerintah AS. Dan saya ingin mereka mengerti, dan saya juga ingin rakyat AS memahami betapa buruknya hal ini.

"Ini bukan yang Anda lihat ... Ini adalah sesuatu yang sangat berbeda. Kami harus mengejar bukti yang benar dan mendapatkan bukti nyata karena ini adalah bagian penting untuk menghentikan pandemi ini. Kami tidak punya banyak waktu," tandasnya.

 
×
Zoomed
TERKINI
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB
Minum air memang benar membantu menghindari penyakit ginjal. Namun.......
info | 08:00 WIB