Ahli Menyebut Virus Corona Covid-19 Lebih Berkembang Luas di Musim Gugur

Sebuah studi mengungkapkan bahwa virus corona Covid-19 bisa berkembang lebih luas saat musim gugur.

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
Kamis, 03 September 2020 | 11:00 WIB
Ahli Menyebut Virus Corona Covid-19 Lebih Berkembang Luas di Musim Gugur

Ahli Menyebut Virus Corona Covid-19 Lebih Berkembang Luas di Musim Gugur

himedik.com - Musim panas sempat dianggap bisa membuat virus corona Covid-19 hanya bertahan hidup singkat. Kini, studi baru mengungkapkan virus corona Covid-19 justru berkembang lebih baik pada suhu dan kelembapan yang lebih rendah.

Dalam kondisi yang tepat, patogen virus bisa tertinggal di jaket pejalan kaki yang sering keluar rumah selama seminggu dan bersifat menular.

Di musim panas, dilansir dari Express, virus corona Covid-19 sempat diperkirakan hanya bisa bertahan selama 3 hari. Namun penemuan baru ini menunjukkan bahwa musim gugur berpotensi berkontribusi pada wabah baru.

Studi tersebut ditulis oleh Juergen Richt, profesor mikrobiologi veteriner di Kansas State University, dalam makalah non-peer-review yang diunggah ke situs web pracetak baru-baru ini.

Para peneliti percaya bahwa virus juga akan bertahan lebih lama di dalam ruangan dalam kondisi yang lebih dingin dan tidak terlalu lembap.

Danau Wanaka di Selandia Baru, saat musim gugur. (Shutterstock)
musim gugur. (Shutterstock)

Penelitian mengungkapkan bahwa virus memiliki waktu penuh rata-rata atau tingkat kerusakan hampir 8 jam pada kenop pintu baja tahan karat.

Penelitian itu juga menemukan bahwa virus bertahan hampir 10 jam di jendela yang hampir 2 kali durasinya di musim panas.

Virus yang juga dikenal sebagai SARS-CoV-2 ini telah beradaptasi dengan baik pada manusia. Namun, virus lebih berkembang biak dalam suhu yang lebih rendah dan kondisi lembap di luar tubuh manusia.

Pada penelitian ini, tim menggunakan angka iklim dari Amerika Midwest untuk menciptakan musim buatan di ruang keamanan hayati.

Temperatur dikontrol pada 13 derajat celcius dan 66 persen kelembapan relatif untuk musim semi dan musim gugur.

Baca Juga: Update Covid-19 Global: Joko Widodo Soroti Case Fatality Rate di Indonesia

Pada musim panas, suhu dijaga pada 25 derajat celcius dan kelembapan 70 persen. Kemudian, patogen itu dioleskan ke permukaan 12 bahan berbeda yang bersentuhan dengan manusia setiap hari.

Sebanyaak 12 bahan berbeda itu di antaranya adalah karton, beton, karet, sarung tangan dan masker N95. Pada tahap awal pandemi, komunitas ilmuwan berharap penyebaran virus corona Covid-19 akan lebih lambat di musim panas.

Temuan penelitian Midwest menunjukkan bukti jelas bahwa virus bertahan lebih lama di bawah musim semi atau musim gugur, bukan kondisi musim panas.

Kecenderungan itu terlihat pada semua bahan yang diuji dan pada derajat yang berbeda. Virus bertahan paling lama di Tyvek, bahan sintetis yang digunakan dalam segala hal mulai dari isolasi rumah hingga peralatan pelindung pribadi.

Pada bahan tersebut ditemukan virus bisa bertahan hingga 45 jam. Selain itu, musim gugur juga bisa memancing lonjakan penyakit menular lainnya, seperti flu.

Kondisi ini berpotensi menyebabkan orang untuk mempertahankan praktik kebersihan pribadi yang baik dan desinfeksi rutin pada permukaan yang berpotensi terkontaminasi untuk mencegah penularan virus corona Covid-19.

×
Zoomed
TERKINI
Mulailah dengan jumlah langkah yang lebih rendah dan tingkatkan secara bertahap agar tubuh bisa beradaptasi dengan baik....
info | 08:00 WIB
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB