Efektifkah Vaksin Covid-19 Bagi Pasien Gangguan Kekebalan? Ini Kata Ahli!

Banyak orang mungkin ragu tingkat efektivitas vaksin Covid-19 pada pasien gangguan kekebalan.

Shevinna Putti Anggraeni
Selasa, 14 September 2021 | 06:03 WIB
Efektifkah Vaksin Covid-19 Bagi Pasien Gangguan Kekebalan? Ini Kata Ahli!

Efektifkah Vaksin Covid-19 Bagi Pasien Gangguan Kekebalan? Ini Kata Ahli!

himedik.com - Sejauh ini, suntik vaksin Covid-19 penuh sudah terbukti menurunkan risiko infeksi parah dan rawat inap akibat virus corona Covid-19.

Tapi, tingkat efektivitas vaksin Covid-19 dan jumlah perlindungan yang diberikan menjadi pertanyaan bagi orang dengan gangguan kekebalan.

Orang dengan gangguan kekebalan, memiliki masalah kesehatan mendasar dan mengalami infeksi virus corona serius mungkin akan mempertanyakan efektivitas vaksin Covid-19.

Karena, sistem kekebalan orang dengan kondisi itu mungkin tidak cukup kuat untuk melawan virus corona Covid-19 dan menyebabkan masalah kesehatan serius.

Khususnya, orang yang menderita kanker, transplantasi organ, penyakit metabolik, masalah autoimun dan sedang mengonsumsi obat yang mengubah respons imun mereka.

Ilustrasi vaksin Covid-19 (pexels.com)
Ilustrasi vaksin Covid-19 (pexels.com)

Sebenarnya dilansir dari Times of India, sebagian besar vaksin Covid-19 yang disetujui penggunaannya mengandung bahan dari virus corona Covid-19 aslinya.

Ketika bahan-bahan ini masuk ke dalam tubuh, sel-sel memberikan instruksi kepada sel-sel kekebalan kita untuk membuat protein yang tidak berbahaya sesuai dengan struktur virus.

Begitu sel-sel membuat salinan protein, tubuh akan menghancurkan materi genetik dari vaksin Covid-19. Kemudian, tubuh akan menyimpan struktur protein dalam sel memorinya untuk melawan virus corona Covid-19 jika terinfeksi nantinya.

Pada orang dengan gangguan kekebalan, sistem kekebalan mereka mungkin tidak akan bekerja secara efisien. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa sistem kekebalan mungkin tidak bisa menghasilkan respons imun yang cukup dari vaksin Covid-19.

Tapi, sebuah penelitian yang dilakukan pada pasien transplantasi organ menunjukkan bahwa mereka memiliki respons antibodi yang buruk terhadap vaksin Covid-19.

Baca Juga: Jangan Asal Bilas, Ini Cara Membersihkan Vagina yang Benar

Selain itu, semua orang yang berpartisipasi dalam penelitian ini, hanya 17 persen yang mengembangkan jumlah respons antibodi yang bisa dideteksi dalam waktu sekitar 2 minggu setelah suntikan pertama vaksin Covid-19 mRNA.

Setelah suntikan kedua, respons antibodi terdeteksi pada 54 persen peserta. Para peneliti studi ini juga menemukan bahwa pasien transplantasi organ sangat berisiko terinfeksi virus corona Covid-19 dan menderita parah.

Meski begitu, para ahli di bidang kedokteran percaya bahwa memberikan suntikan penguat vaksin Covid-19 bisa memberikan mereka perlindungan tambahan.

Dosis ketiga vaksin Covid-19 bisa meningkatkan respons imun dan level respon antibodi terhadap virus corona Covid-19. Selain itu, mereka juga tetap harus menggunakan masker, jaga jarak, dan menjaga kebersihan tangan.

 
×
Zoomed
TERKINI
Mulailah dengan jumlah langkah yang lebih rendah dan tingkatkan secara bertahap agar tubuh bisa beradaptasi dengan baik....
info | 08:00 WIB
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB