Pria

Berikut Fakta di Balik Hilangnya Suara Daniel, Pemeran Film Ahok

Akibat penyakit itu, Daniel harus kehilangan suaranya selama kurang lebih tiga bulan.

Rauhanda Riyantama

Daniel Mananta. (Instagram/vjdaniel)
Daniel Mananta. (Instagram/vjdaniel)

Himedik.com - Sukses membintangi film berjudul A Man Called Ahok, Daniel Mananta atau akrab disapa VJ Daniel menuai pujian dari banyak pihak. Tak terkecuali mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Pasalnya dalam waktu empat hari saja, film garapan sutradara Putrama Tuta telah meraup lebih dari satu juta penonton. Hal ini menandakan film yang mengisahkan sosok fenomenal Ahok ini mendapat repons positif dari masyarakat. 

Terlepas dari segala pencapainnya, dalam acara di stasiun TV swasta beberapa saat lalu, Daniel mengaku pernah kehilangan suaranya pada tahun 2012. Kejadian itu ia alami lantaran ada tumor jinak yang tumbuh di pita suaranya.

Akibat penyakit itu, Daniel harus kehilangan suaranya selama kurang lebih tiga bulan. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk melakukan operasi dengan tujuan mengembalikan suaranya seperti sedia kala. 

Alih-alih ingin sembuh total, operasi tersebut justru belum benar-benar membuat suaranya kembali pulih. Dampak terburuknya, presenter berusia 36 tahun itu juga harus kehilangan identitasnya sebagai presenter.

Nah, jika dilihat dari segi medis, tumor jinak pada pita suara biasanya dimulai dengan kunculnya sakit tenggorokan sehingga menyebabkan perubahan suara. Suara jadi terdengar lebih serak, kasar, nada lebih rendah dari biasanya, hilang suara, nyeri saat bersuara, suara tegang, dan suara susah keluar.

Daniel Mananta saat memerankan Ahok dalam film A Man Called Ahok. (Instagram/vjdaniel)
Daniel Mananta saat memerankan Ahok dalam film A Man Called Ahok. (Instagram/vjdaniel)

 

Dilansir Himedik dari berbagai sumber, memang tidak semua suara serak memicu terjadinya tumor. Namun apabila suara serak tak kunjung hilang dalam waktu lebih dari dua minggu, sebaiknya segera memeriksanya ke Dokter Spesialis THT.

Hal tersebut dijelaskan oleh dr. Zainal Adhim, SP. THT-KL (K), Ph.D dari RS Pondok Indah. “Paling sering terjadi suara serak karena virus human papiloma. Penyakit ini memiliki tingkat kekambuhan tinggi, dan biasanya terjadi karena sering melakukan oral seks dengan pasangan. Sama halnya dengan virus human papiloma atau kanker serviks pada daerah kewanitaan,” ungkapnya.

Selain itu, dr. Zainal menjelaskan adanya penyakit kanker pada tenggorokan terjadi karena faktor genetik, paparan kasinogenik atau kandungan yang ada pada rokok serta polusi udara. Sedangkan penyakit tumor terjadi karena penyalahgunaan suara yang menimbulkan trauma dengan berlebihan menggunakan pita suara.

Namun penyakit tersebut dapat disembuhkan apabila masih dalam tahap awal kanker dan tumor. “Kalau masih tahap awal kanker dan tumor, masih bisa dipertahankan suaranya. tapi jika dibiarkan sampai merasa sesak karena tidak bisa bernapas sudah susah diambil,” kata dr. Zainal.

dr. Zainal juga memaparkan beberapa cara mencegah terjadinya suara serak, antara lain gunakan suara secara normal. Bila sudah ada gejala batuk, pilek, dan demam lebih dari dua minggu segera periksa ke dokter, kurangi makanan cepat saji dan banyak minum air putih.

Oleh karena itu, janganlah menganggap enteng suara serak, ternyata suara serak pun merupakan gejala penyakit kanker dan tumor pada tenggorokan. Cukup menyeramkan bukan?

Berita Terkait

Berita Terkini