Merasa Menderita, Pangeran Harry Bertekad Memutus Siklus Trauma

Pangeran Harry bertekad memutus siklus trauma yang turun-menurun di keluarganya.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
Sabtu, 22 Mei 2021 | 17:00 WIB
Merasa Menderita, Pangeran Harry Bertekad Memutus Siklus Trauma

Merasa Menderita, Pangeran Harry Bertekad Memutus Siklus Trauma

himedik.com - Pangeran Harry berbicara tentang rasa sakit dan penderitaan genetik yang menurutnya diturunkan dalam keluarganya dalam episode podcast "Armchair Expert" baru-baru ini.

Suami dari Meghan Markle ini mengatakan kepada host podcast, Dax Shepard dan Monica Padman, bahwa ia ingin memastikan siklus trauma tersebut berhenti pada dirinya.

"Saya pikir kita tidak harus menyalahkan atau menuduh siapa pun, tetapi yang pasti, dalam hal mengasuh anak jika saya pernah mengalami suatu bentuk rasa sakit atau penderitaan akibat rasa sakit, atau penderitaan yang mungkin dialami ayah atau kedua orang tua saya... Saya akan memastikan saya memutus siklus itu agar saya tidak menurunkannya," katanya.

Menurut Insider, trauma memang dapat diturunkan dengan berbagai cara, misalnya dari cara orangtua membesarkan anaknya hingga ekspresi kode genetik.

Meski pengalaman traumatis tidak dapat mengubah DNA, pengalaman tersebut dapat 'menghidupkan' dan 'mematikan' gen, dan efek tersebut dapat menurun ke generasi selanjutnya.

Trauma dapat mengubah ekspersi gen lintas generasi

Berdasarkan ilmu pewarisan epigenetik, apa yang Anda makan, tempat tinggal Anda, dan stres yang Anda alami, semuanya dapat memicu perubahan pada generasi selanjutnya.

Epigenetik mengacu pada pengaruh faktor lingkungan terhadap ekspresi gen. Para ilmuwan sekarang mempelajari manusia dan hewan untuk menentukan bagaimana pengaruh epigenetik dapat diturunkan melalui beberapa generasi.

Dalam sebuah penelitian terhadap tikus yang dipisahkan dari induknya, efek trauma dari kejadian tersebut dapat diamati dalam perilaku keturunan lima generasi. Tikus tersebut bertindak depresi, antisosial, dan mengambil lebih banyak risiko.

Mempelajari trauma pada manusia lebih rumit, tetapi para peneliti telah menganalisis keturunan tentara yang ditahan di basecamp tahanan selama Perang Saudara Amerika Serikat.

Baca Juga: Kasus Pangeran Harry & Meghan, Terapis: Baik untuk Kesehatan Mental Mereka

Hasilnya menunjukkan anak laki-laki tahanan perang memiliki tingkat kematian 11 persen lebih tinggi daripada keturunan laki-laki dari veteran yang bukan Perang Saudara.

Meski trauma keluarga kerajaan tidak melibatkan faktor lingkungan yang ekstrim seperti kepadatan penduduk dan kekurangan gizi, Pangeran Harry mengatakan dia bertekad untuk mengatasi rasa sakit dan penderitaan yang telah diturunkan.

"Kita sebagai orang tua harus melakukan yang terbaik untuk mencoba dan berkata, 'Kau tahu, itu terjadi padaku, aku akan memastikan itu tidak terjadi padamu'," pungkas sang Pangeran di podcast.

×
Zoomed
TERKINI
Ada beberapa penyebab kelumpuhan wajah yang perlu Anda ketahui dan waspadai....
pria | 08:00 WIB
Sebelum terjadi saraf kejepit, solusi terbaik melakukan pencegahan....
pria | 07:00 WIB
Ketika kandung kemih terasa penuh dan sudah muncul keinginan buang air kecil, maka sebaiknya segera ke kamar mandi...
pria | 07:00 WIB
Benarkah konsumsi telur dapat meningkatkan risiko mengembangkan bentuk kanker prostat?...
pria | 09:24 WIB
Bahkan kandungannya lebih tinggi tiga kali lipat dibanding testis hewan dan plasenta manusia....
pria | 10:55 WIB