Wanita

Perubahan Menstruasi di Usia 20, 30 dan 40an

Begini perubahannya.

Dinar Surya Oktarini | Yuliana Sere

Ilustrasi wanita berpakaian terbuka - (Unsplash/Amy Kate)
Ilustrasi wanita berpakaian terbuka - (Unsplash/Amy Kate)

Himedik.com - Perubahan siklus menstruasi setiap orang berbeda-beda. Ada yang terlambat satu bulan, ada yang hanya berlangsung empat hari atau bahkan ada yang dua kali dalam sebulan.

Perubahan pada siklus menstruasi seperti ini sulit diprediksi dan sulit untuk diatasi.

Karena seiring bertambahnya usia, menstruasi akan terus 'menyesuaikan diri' dan berkembang, yang terjadi berkat perubahan hormon yang berkaitan dengan usia serta pengalaman seperti kehamilan dan perimenopause.

Melansir dari health, berikut perubahan menstruasi di setiap tingkatan umur.

Di usia 20-an

Di periode ini, sangat umum untuk anak perempuan untuk tidak berovulasi secara teratur, kata Lauren Streicher, MD, ob-gyn yang berbasis di Chicago.

Jika tanpa ovulasi teratur, menstruasi akan lebih tidak menentu. Di sisi lain, ketika siklus terjadi kurang lebih setiap bulan, kamu juga akan mulai mengalami PMS, kram, dan nyeri payudara.

Di umur ini juga, banyak wanita yang memutuskan untuk menggunakan kontrasepsi, seperti pil, IUD hormonal atau suntikan kontrasepsi.

Ini bahkan dapat membuat menstruasi tidak terjadi. Pil KB mencegah ovulasi, dan tanpa ovulasi, tidak ada penumpukan lapisan rahim yang harus dilepaskan.

Ilustrasi alat reproduksi wanita. (Shutterstock)
Ilustrasi alat reproduksi wanita. (Shutterstock)

 

Di usia 30-an

Di umur ini, menstruasi harus dapat diprediksi dan konsisten, kata Dr. Streicher. Gejala seperti aliran yang tiba-tiba lebih berat atau rasa sakit yang lebih hebat daripada kram biasa mungkin merupakan tanda masalah yang lebih besar.

Rasa sakit juga sering didiagnosis ketika seorang wanita berusia 30-an.

Sementara itu, melahirkan dapat menyebabkan perubahan jangka panjang ke siklus. "Banyak wanita akan memberi tahu Anda bahwa setelah mereka hamil, kram mereka membaik," kata Dr. Streicher.

“Itu bisa disebabkan oleh beberapa hal, tetapi karena pembukaan serviks menjadi sedikit lebih besar, aliran keluar tanpa memerlukan kontraksi uterus yang kuat.”

Wanita bercermin - (Pixabay/Claudio_Scott)
Wanita bercermin - (Pixabay/Claudio_Scott)

 

Di usia 40-an

Usia 40-an merupakan tanda awal dari fluktuasi hormon perimenopause yang merupakan prekursor untuk menopause.

Selama masa ini, umumnya delapan hingga 10 tahun sebelum menopause (yang biasanya terjadi pada awal usia 50-an), tubuhmu bersiap untuk garis akhir menstruasi.

Perubahan hormon yang normal menyebabkan ovulasi menjadi lebih tidak teratur. Fluktuasi tingkat estrogen memungkinkan kamu mengalami menstruasi yang terlewat, aliran yang lebih berat, bercak di antara periode dan PMS yang lebih lama.

"Hal yang selalu saya katakan tentang gejala perimenopause adalah bahwa tidak ada yang dapat diprediksi," kata Dr. Streicher.

''Hanya saja jangan lupa, bahkan jika ovulasi tidak menentu, kamu masih bisa hamil. Seorang wanita tidak mengalami menopause sampai haidnya berhenti setidaknya selama satu tahun,'' pungkasnya.

Berita Terkait

Berita Terkini