Wanita

Umi Pipik Obati Tumor Lewat Terapi Lintah, Adakah Efek Sampingnya?

Umi Pipik mengobati tumor kelenjar getah beningnya melalui pengobatan alternatif dengan terapi lintah.

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni

Umi Pipik jalani terapi lintah [Instagram/@_ummi_pipik_]
Umi Pipik jalani terapi lintah [Instagram/@_ummi_pipik_]

Himedik.com - Umi Pipik, istri mendiang ustaz Jefri Al Buchori mengaku hampir sembuh dari tumor kelenjar getah bening yang diidapnya sejak 2017. Ia memilih menjalani pengobatan alternatif daripada tindakan operasi untuk mengatasi kondisinya.

Salah satu pengobatan alternatif yang dijalaninya adalah terapi lintah. Kini, Umi Pipik mengaku sudah hampir sembuh 100 persen dari tumor yang diidapnya selama 3 tahun.

"Alternatif aja sih.. terapi sedot lintah, akupuntur, minum herbal," ungkap Umi Pipik ditemui di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, Rabu (14/10/2020).

Meskipun terapi lintah ini sudah menjadi metode pengobatan sejak Mesir kuno. Tapi, apakah terapi lintah tetap memiliki efek samping?

Terapi lintah tergolong mudah dilakukan, tapi juga memiliki risiko efek samping yang lebih rendah daripada terapi lainnya.

Umi Pipik bersama putranya, Abidzar Al Ghifari. [Instagram]
Umi Pipik bersama putranya, Abidzar Al Ghifari. [Instagram]

Dilansir dari Healthline, ada beberapa risiko terapi lintah, seperti infeksi bakteri yang melibatkan bakteri resisten terhadap obat. Jadi, pastikan untuk menghindari lintah di luar lingkungan yang diatur.

Dalam hal ini, orang yang immunocompromised oleh penyakit autoimun dan faktor lingkungan bukanlah kandidat yang baik untuk menjalani terapi lintah.

Jika terjadi kesalahan selama proses terapi lintah, darah akan mengalir keluar dari area yang telah dirawat dan tempat gigitan lintah tidak akan menutup.

Terkadang lintah akan mencoba pindah ke area tubuh lain di mana Anda tidak memerlukan perawatan, sehingga menyebabkan kehilangan darah yang tak diperlukan.

Terkadang pula, seseorang akan menemukan dirinya alergi terhadap air liur lintah selama atau setelah terapi. Jika kondisi ini terjadi, Anda langsung mengetahuinya dan tidak disarankan lagi menjalani terapi lintah.

Selain itu, kadar darah anak-anak yang menjalani terapi lintah juga harus dipantau selama proses pengobatan. Karena, terkadang mereka memerlukan transfusi darah.

Selain risiko pengobatan, proses terapi lintah juga tidak selalu mudah. Menurut The Sydney Children's Hospital Network, terkadang lintah tidak mau menempel pada bagian tubuh tertentu. Hal ini bisa terjadi karena ada bahan kimia di kulit yang tidak disukai lintah.

Bahkan bagian tubuh atau cangkok yang dipasang kembali mungkin tidak bisa bertahan setelah melakukan terapi lintah.

Namun, hal yang paling penting adalah lintah yang sudah mengandung darah manusia tidak bisa digunakan lagi. Karena, lintah itu dianggap sudah terkontaminasi.

Berita Terkait

Berita Terkini