Alami Sindrom Piriformis karena Kelamaan Duduk, Hati-Hati Komplikasinya!

Baru-baru ini, viral seorang mahasiswi curhat tentang kondisinya yang menderita sindrom piriformis akibat kelamaan duduk.

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
Minggu, 21 Maret 2021 | 15:00 WIB
Alami Sindrom Piriformis karena Kelamaan Duduk, Hati-Hati Komplikasinya!

Alami Sindrom Piriformis karena Kelamaan Duduk, Hati-Hati Komplikasinya!

himedik.com - Unggahan seorang mahasiswi bernama Anisa di akun TikTok-nya @Nisaaaaa sedang viral belakangan. Melalui unggahannya, ia mengaku menderita sindrom piriformis atau piriformis syndrome dan memiliki kebiasaan duduk lebih dari 15 jam sehari.

Anisa juga mengaku tidak pernah olahraga dan tidur paling lama 5 jam. Sampai akhirnya, ia pun menunjukkan bukti hasil pemeriksaan medisnya mendiagnosis piriformis syndrome.

"Duduk dari pagi sampai pagi lagi and surprise piriformis syndrome. Wajib renang seminggu sekali dan harus terapi tiap minggu," tulisnya dalam video TikTok.

Sindrom piriformis atau piriformis syndrome terjadi ketika otot piriformis cedera dan mengalami peradangan. Sehingga menekan saraf skiatik, yaitu saraf yang berawal dari sumsum tulang belakang dan menjalar ke bokong hingga tungkai.

Kondisi ini biasanya membutuhkan penanganan medis khusus. Dokter biasanya menyarankan Anda istirahat dan menghindari aktivitas yang bisa memicu kondisi tersebut.

Mahasiswi curhat alami piriformis syndrome (TikTok/@Anisaaaaa)
Mahasiswi curhat alami piriformis syndrome (TikTok/@Anisaaaaa)

Beberapa hal yang bisa dilakukan pasien untuk meredakan gejala sindrom piriformis dilansir dari Alodokter, antara lain:

  1. Minum obat pereda nyeri, seperti parasetamol dan ibuprofen
  2. Mengompres area yang sakit menggunakan es batu selama 15-20 menit dan kompres pakai air hangat cukup 20 menit
  3. Terapi atau latihan peregangan berdasarkan saran dokter.

Dalam kasus yang lebih serius, biasanya dokter meresepkan obat pelemas oto untuk melenturkan dan meregangkan otot.

Dokter juga akan memberikan suntikan kortikosteroid ke bagian tubuh yang nyeri untuk meredakan peradangan. Selain itu, dokter bisa melakukan transcutaneous electrical nerve stimulator (TENS) atau terapi listrik tegangan rendah.

Salah satu yang perlu diwaspadai dari kondisi ini adalah komplikasinya. Jika diabaikan tanpa bantuan medis, sindrom piriformis bisa menyebabkan cedera pada saraf skiatik.

Cedera ini bisa merusak saraf secara permanen dan menyebabkan komplikasi, seperti nyeri kronis, mati rasa permanen dan kelumpuhan.

Baca Juga: Studi: Konsumsi Aspirin Dosis Rendah Mungkin Kurangi Penularan Covid-19

Tindakan pencegahan

Karena sindrom piriformis bisa disebabkan oleh olahraga atau gerakan berulang. Maka dilansir dari WebMD, lebih baik Anda menghindari olahraga berlari, bulutangkis dan lainnya sesuai anjuran dokter.

Selain itu, lakukan pemanasan dengan benar sebelum beraktivitas dan tingkatkan intensitas olahraga secara bertahap.

Pastikan postur tubuh Anda baik ketika berlari, berjalan atau berolahraga. Jika terjadi nyeri, hentikan aktivitas dan istirahat sampai nyeri mereda.

×
Zoomed
TERKINI
Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan untuk mengetahui menstruasi normal atau tidak....
wanita | 08:00 WIB
Hipertensi kehamilan sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal....
wanita | 08:00 WIB
Mulas saat hamil adalah keluhan yang sering dialami oleh ibu hamil....
wanita | 08:00 WIB
Selain untuk mengatasi nyeri haid, banyak dari obat herbal ini juga memberikan manfaat tambahan....
wanita | 08:00 WIB
Bukan hanya bermanfaat bagi ibu hamil, pemberian vaksinasi influenza juga akan berpengaruh pada bayi....
wanita | 10:00 WIB