Jangan Larang Anak Laki-laki Main Bola, Dampaknya ke Kesehatan Mental lho!

Studi menemukan berolahraga bagi anak laki-laki sangat penting untuk kesehatan mental mereka.

Rosiana Chozanah
Selasa, 28 September 2021 | 12:00 WIB
Jangan Larang Anak Laki-laki Main Bola, Dampaknya ke Kesehatan Mental lho!

Jangan Larang Anak Laki-laki Main Bola, Dampaknya ke Kesehatan Mental lho!

himedik.com - Psikoedukator Marie-Josée Harbec dari University of Montreal (UdeM), Canada, mengungkap bahwa olahraga memiliki manfaat jangka panjang bagi kesehatan mental anak laki-laki.

Dalam studinya, Marie-Josée Harbec membuktikan bagaimana olahraga membuat anak laki-laki berisiko kecil mengalami gejala depresi dan kecemasan ketika usia mereka bertambah.

Studi yang terbit dalam Journal of Developmental & Behavioral Pediatrics ini juga menunjukkan anak laki-laki yang mengalami sedikit tekanan emosional di masa kanak-kanak akan menjadi lebih aktif secara fisik di masa remaja awal.

"Kami ingin membuktikan hubungan timbal balik jangka panjang antara partisipasi anak laki-laki dalam olahraga dengan gejala depresi serta kecemasan pada anak usia sekolah," kata Harbec, dilansir Medical Xpress.

Ilustrasi anak bermain bola, potensi anak. (Elements Envato)
Ilustrasi anak bermain bola, potensi anak. (Elements Envato)

Harbec dan rekannya meneliti kebiasaan olahraga anak-anak usia lima hingga 12 tahun yang dilaporkan oleh sang anak sendiri serta orang tua mereka, dan melihat tekanan emosional anak usia enam hingga 10 tahun yang dilaporkan para guru.

"Kami menemukan, anak laki-laki yang tidak pernah berpartisipasi dalam olahraga di usia 5 tahun lebih berisiko untuk tidak bahagia, mudah lelah, sulit bersenang-senang, banyak menangis, dan tampak takut atau khawatir ketika mencapai usia 6 hingga 10 tahunnya," ujar rekan penulis, profesor psikoedukasi UdeM Linda Pagani.

Tidak hanya itu, mereka juga melihat anak laki-laki yang sudah menunjukkan gejala depresi dan kecemasan selama masa kanak-kanak menjadi kurang aktif secara fisik pada usia 12 tahun.

"Anak laki-laki yang mengalami gejala depresi dan kecemasna mungkin lebih terisolasi secara sosial, dan tingkat energinya menurun serta rasa kompetensi yang lebih rendah, pada akhirnya memengaruhi keterlibatan mereka dalam aktivitas fisik," sambungnya.

Untuk anak perempuan hasilnya berbeda. Anak dari gender ini lebih mungkin mencari bantuan dan mengungkapkan tekanan emosionalnya kepada orang-orang sekitar untuk mendapat perlindungan.

Baca Juga: 8 Tanda Anak Laki-Laki Sudah Masuk Masa Pubertas

×
Zoomed
TERKINI
DBD bisa menyerang siapa saja, di mana saja terlepas dari tempat tinggal, usia, atau gaya hidup....
anak | 10:39 WIB
Issa Xander cuma punya paspor Amerika Serikat....
anak | 10:00 WIB
Ketidakseimbangan pada hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid dapat terjadi akibat pola makan yang tidak sehat....
anak | 07:00 WIB
Di Indonesia tak ada vaksin khusus HMPV seperti halnya vaksin covid-19 dan semacamnya....
anak | 10:00 WIB
Penelitian menyatakan bahwa pola makan rendah asupan serat merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko te...
anak | 07:00 WIB