Info

Benarkah Minuman Terlalu Panas Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Kerongkongan?

Minum minuman yang terlalu panas disebut meningkatkan risiko kanker esofagus hampir dua kali lipat.

Vika Widiastuti

Ilustrasi minum teh (Pixabay/Raychan)
Ilustrasi minum teh (Pixabay/Raychan)

Himedik.com - Tak sedikit orang yang lebih suka minum teh atau kopi saat masih panas. Hal tersebut karena dianggap lebih nikmat. 

Namun, mungkin Anda harus lebih hati-hati. Hal tersebut karena kebiasaan ini ternyata bisa berbahaya untuk kesehatan.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 50.000 orang, minum minuman yang terlalu panas meningkatkan risiko kanker esofagus hampir dua kali lipat.

Para ahli kanker menemukan bahwa minum 700 ml teh setiap hari pada suhu 60 derajat Celcius atau lebih, secara konsisten dikaitkan dengan risiko penyakit 90 persen lebih tinggi, dibandingkan dengan orang yang minum teh pada suhu yang lebih rendah.

Ilustrasi teh panas (Pixabay/Dinda Rachmawati)
Ilustrasi teh panas (Pixabay/Dinda Rachmawati)

 

Dilansir Suara.com dari The Independent, peneliti Dr. Farhad Islami menyarankan para peminum teh untuk membiarkan minuman mereka sedikit lebih dingin sebelum meminumnya untuk mengurangi risiko kanker. Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Cancer ini memelajari kebiasaan minum pada 50.045 orang berusia 40 hingga 75 di Iran.

Dr. Islami dari American Cancer Society mengatakan, "Menurut laporan kami, minum teh yang sangat panas dapat meningkatkan risiko kanker esofagus, dan karena itu disarankan untuk menunggu sampai minuman panas menjadi dingin sebelum diminum."

Ilustrasi minum minuman panas. (Unplash/Alisa Anton)
Ilustrasi minum minuman panas. (Unplash/Alisa Anton)

 

Kanker esofagus adalah jenis kanker yang memengaruhi kerongkongan yang membawa makanan dari tenggorokan ke perut.

Pada tahun 2016, Badan Internasional untuk Penelitian Kanker dari Organisasi Kesehatan Dunia mengklasifikasikan minum minuman yang sangat panas di atas 65 derajat Celcius sebagai kemungkinan karsinogen.

Hal ini diinformasikan oleh penelitian yang sebagian besar melihat banyak orang minum minuman pada suhu yang sangat panas, terutama di Amerika Selatan, Asia, dan Afrika. (Suara.com/Dinda Rachmawati)

Berita Terkait

Berita Terkini