Info

Depresi Pasca-melahirkan, Ibu Ini Dihantui Perasaan Anaknya Akan Meninggal

Hingga akhirnya kecemasan mulai merayap dan menghancurkan kehidupan baru Hannah yang indah sebagai seorang ibu.

Vika Widiastuti

Ilustrasi ibu gendong anaknya (Unplash/Kyle Nieber)
Ilustrasi ibu gendong anaknya (Unplash/Kyle Nieber)

Himedik.com - Berdasarkan survei, sekitar 1 dari lima perempuan akan mengalami mental pada saat kehamilan atau setelah melahirkan. Lebih parah lagi, dengan adanya stigma yang diterima ibu baru membuat mereka takut untuk mencari bantuan dam mengakui bahwa mereka berjuang setelah melahirkan. 

Akibatnya, banyak ibu gagal memperhatikan kondisi mereka atau mengenali tanda-tanda depresi pasca melahirkan sehingga mereka tidak bisa mendapatkan bantuan. 

Inilah yang dialami Hannah Wilkinson saat melahirkan anak pertamanya, Finley, 15 bulan lalu. Awalnya itu adalah saat yang menyenangkan. Setelah menderita keguguran berulang, dia dan suaminya akhirnya memiliki bayi yang mereka tunggu-tunggu. 

Tapi kebahagiaan itu tidak lama ia rasakan. Hingga akhirnya kecemasan mulai merayap dan menghancurkan kehidupan baru Hannah yang indah sebagai seorang ibu. 

"Keguguran membuat saya harus melakukan banyak penyelidikan, pengujian genetik dan akhirnya pengobatan. Itu adalah waktu yang benar-benar menghancurkan hati dan seluruh kehamilan saya dengan Finley dibanjiri rasa takut bahwa saya akan kehilangan dia," ungkap Hannah seperti dilansir Suara.com dari Metro.

Ilustrasi perempuan merasa stres dan depresi (Shutterstock)
Ilustrasi perempuan merasa stres dan depresi (Shutterstock)

Di sinilah kecemasan Hannah dimulai. Saat dia ingin melahirkan dan akhirnya diinduksi, Hannah berpikir dia tidak percaya akan tubuhnya karena telah berkali-kali mengecewakannya. 

"Saat dia dilahirkan, saya diliputi oleh cinta dan kelegaan bahwa dia akhirnya di sini dengan aman. Ya, tiga bulan pertama yang melelahkan, tetapi emosi yang kuat membuat saya melewatinya. Saya baik-baik saja," ujar dia. 

Sampai akhirnya Finley memasuki usia empat bulan, semuanya mulai salah. 

"Saya mulai terobsesi dengan keselamatan dan kesejahteraannya. Saya tidak lagi merasa senang meninggalkannya bersama siapa pun, termasuk suami saya, bahkan selama setengah jam," jelas dia. 

"Saya yakin bahwa saya telah melakukan kesalahan dan dia akan mati. Saya bahkan memiliki pikiran yang mengerikan ketika saya membaringkannya di ranjangnya, bahwa saya menciumnya untuk terakhir kalinya di dalam peti matinya. Ketika dia di kamar mandi, entah bagaimana dia akan keluar dari lengan saya dan tenggelam," kata dia.

"Saya akan melewati tangga dan membayangkan tanpa sengaja melemparkannya ke bawah. Ketakutan terbesar dan paling invasif saya adalah setiap kali saya berada di mobil. Saya sangat yakin bahwa dia akan mati di kursi mobilnya, sehingga saya harus berhenti dan berulang kali memeriksa apakah dia masih bernafas," lanjut Hannah. 

Hannah mengaku dia berusaha berpikir rasional, namun itu tidak bisa dia lakukan. Bahkan dia kemudian akan merasa bahwa Finley akan meninggal karena kanker di masa depan. Itu mengerikan.

Hannah menyadari ada sesuatu yang salah dan bahwa dia tidak bisa terus seperti ini, tetapi stigma dan rasa malu pada awalnya menghentikannya untuk meminta bantuan. 

"Saya tahu itu semakin di luar kendali dan bahwa saya semakin buruk, tetapi saya tidak ingin memberi tahu siapa pun karena beberapa penglihatan saya sangat mengganggu, saya khawatir mereka akan berpikir saya gila," aku Hannah. 

Suatu hari, ketika dirinya keluar dengan beberapa teman kelompok antenatal, dia bercerita bahwa dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa Finley dan khawatir dia sekarat.

Salah satu dari mereka bertanya seberapa sering Hannah memikirkan hal ini. Hannah menjawab, setidaknya 10 kali dalam sehari ia dihantui perasaan was-was. Temannya lantas menyarankan agar Hannah berbicara pada profesional. 

Hannah Temukan Solusi

NEXT

"Saya tidak tahu harus berkata apa untuk membuka percakapan dengan profesional kesehatan. Pada hari berikutnya dia datang ke rumah saya, itu adalah salah satu hari terburuk dalam perjalanan keibuan saya," ungkap dia. 

Hannah duduk dan mengakui segalanya, sambil berteriak dan menangis ketakutan. Dia merasa bahwa Finley akan meninggal berulang kali. Profesional kesehatan terus berusaha meyakinkannya bahwa anak laki-lakinya sehat yang baik-baik saja. 

"Dia memberi saya banyak nasihat, termasuk menemui dokter umum untuk pengobatan dan terapi perilaku kognitif (CBT). Saya bersikukuh bahwa saya tidak menginginkan obat, walaupun melihat ke belakang dengan kepala yang jernih, saya pikir itu akan membantu," ujar dia.

Dengan menggunakan teknik CBT dan mulai terbuka dengan kondisinya, Hannah akhirnya mendapatkan dukungan dari keluarga dan teman-temannya. Dia mulai bisa mengendalikan rasa takutnya. Itu sebabnya mengapa para profesional kesehatan mental terus berbicara untuk memberikan dan mendapatkan dukungan untuk ibu baru.

Ilustrasi ibu dan anak - (Pixabay/fancycrave1)
Ilustrasi ibu dan anak - (Pixabay/fancycrave1)

 

"Jika gejala Anda mengganggu kehidupan sehari-hari Anda atau selama lebih dari beberapa minggu, penting untuk mencari bantuan sesegera mungkin," kata Rachel Boyd, Kepala Konten Informasi di Mind. 

Berbicaralah dengan dokter, teman atau anggota keluarga Anda sehingga Anda tidak sendirian dan bisa mendapatkan bantuan dan dukungan yang tepat.

Dokter mungkin dapat menyarankan komunitas atau kelompok pendukung untuk ibu baru sehingga Anda dapat mendiskusikan perasaan Anda dengan orang lain. Mereka mungkin juga menawarkan Anda konseling, atau dalam beberapa kasus, pengobatan. 

Teknik perawatan diri dan perubahan gaya hidup secara umum juga dapat membantu mengelola gejala dari banyak masalah kesehatan mental. Berolahraga, keluar rumah, diet sehat, dan tidur nyenyak semuanya terbukti bermanfaat dalam mengatasi kecemasan. 

"Ini juga bisa sangat membantu untuk membuat teman dan keluarga tahu bagaimana perasaan Anda, dan menerima tawaran bantuan apa pun," tutup Rachel. (Suara.com/Dinda Rachmawati)

Berita Terkait

Berita Terkini