Info

Selain Sakit Dada, Gejala Serangan Jantung Pengaruhi Indera Pengecap

Ternyata gejala serangan jantung bisa memengaruhi indera pengecap ketika merasakan minuman dan makanan.

Vika Widiastuti | Shevinna Putti Anggraeni

Ilustrasi nyeri dada, serangan jantung. (Arkadia Digital Media/Ema Rohimah)
Ilustrasi nyeri dada, serangan jantung. (Arkadia Digital Media/Ema Rohimah)

Himedik.com - Kebanyakan orang akan merasakan sakit dada dan keringat berlebihan sebagai gejala serangan jantung. Tetapi, gejala serangan jantung juga bisa memengaruhi indera pengecapan ketika minum dan makan sesuatu.

Hal itu pun dialami oleh Louise McGill, seorang wanita asal Inggris yang mengalami gejala serangan jantung. Suatu hari Louise mencicipi rasa minuman angguranya sedikit berbeda dari biasanya.

Di sisi lain, keluarganya justru tak merasakan keanehan apapun ketika meminum anggur tersebut. Sehingga Louise pun tidak bisa menikmati minum anggur bersama keluarganya.

Malam harinya, wanita 45 tahun ini akhirnya terbangun karena merasakan sakit dada. Ia pun langsung dibawa ke rumah sakit karena takut terjadi sesuatu yang bahaya.

Ternyata benar saja, Louise mengalami gejala serangan jantung. Perubahan rasa minuman anggur salah satu gejala serangan jantung yang dialaminya.

"Saat itu aku bangun tengah malam dengan rasa sakit dan tekanan luar biasa di dadaku. Awalnya saya pikir itu mungkin gangguan pencernaan biasa. Tetapi, saya mulai menyadari ada sesuatu yang tidak benar dan suami langsung memanggil ambulans," kata Louise dikutip dari mirror.co.uk.

Perempuan terkena serangan jantung. (Shutterstock)
Perempuan terkena serangan jantung. (Shutterstock)

 

Ketika paramedis datang, mereka pun sudah menduga bahwa Louise mengalami serangan jantung dan suaminya mulai menangis.

"Aku seketika terkejut dan berpikir akan meninggal dunia," tuturnya.

Lantas paramedis memasang stent di dalam arteri koroner kirinya dan kondisinya mulai lebih baik. Dokter pun mengatakan bahwa Louise mengalami penyumbatan di kedua arteri.

Akibat kejadian itu, Louise pun meminta kepada semua wanita agar peduli kesehatan jantung sejak muda. Meskipun penyakit kardiovaskular ini lebih banyak menyerang pria.

British Heart Foundation juga telah mengungkapkan ketidasadaran diagnosis dan pengobatan serangan jantung menjadi penyebab paling tinggi kematian wanita di Inggris.

Penelitian terbaru BHF juga menunjukkan bahwa wanita sering menunda mencari bantuan medis lebih dari 2 jam ketika mengalami gejala serangan jantung.

"Melihat kembali ke belakang sebelum saya serangan jantung. Saya memang merasa sangat lelah hingga tertidur di sofa. Tapi aku pikir karena aku sangat sibuk bekerja dan mengurus anak-anak," ujarnya.

Kini, Louise pun sadar bahwa rasa lelahnya itu merupakan tanda serangan jantung. Bahkan gejalanya juga memengaruhi indera pengecapnya ketika minum dan makan.

Berita Terkait

Berita Terkini