Mitos Kesehatan Seksual Ini Masih Dipercaya, Terutama pada Kalangan Muda

Tidak selalu, berhubungan intim tanpa kondom menyebabkan kehamilan, bagaimana bisa?

Vika Widiastuti | Rosiana Chozanah
Kamis, 24 Oktober 2019 | 19:30 WIB
Mitos Kesehatan Seksual Ini Masih Dipercaya, Terutama pada Kalangan Muda

Mitos Kesehatan Seksual Ini Masih Dipercaya, Terutama pada Kalangan Muda

himedik.com - Pendidikan kesehatan seksual tidak hanya bisa didapatkan di mana saja, seperti sekolah, lingkungan keluarga hingga lingkungan sosial.

Namun sayangnya, masih ada beberapa informasi kurang tepat yang hingga kini dipercaya masyarakat dan bisa saja semakin menyebar ke generasi berikutnya.

Agar tidak lagi 'salah kaprah', berikut 4 fakta tentang seks yang biasanya diketahui seiring tumbuh dewasa.

1. Berhubungan intim tanpa kondom pasti membuat hamil

Mungkin hal ini bertujuan untuk melindungi anak muda dari seks tidak aman, menurut Insider.

Namun faktanya, masing-masing orang memiliki kesuburan yang bervariasi. Jadi berhubungan intim tanpa kondom tidak selalu membuat hamil.

Menurut Dr. Maureen Whelihan, seorang OB / GYN di the Center for Sexual Health and Education, melakukan hubungan intim tanpa kondom selama ini yang berakhir pada kehamilan hanya 20%.

Ilustrasi pasangan berhubungan seks atau bercinta. (Shutterstock)
Ilustrasi pasangan berhubungan seks atau bercinta. (Shutterstock)

2. Siklus menstruasi akan sama dengan teman dekat

Pernahkah Anda mendengar bahwa siklus menstruasi akan sama dengan seorang teman jika sering menghabiskan waktu bersama?

Nyatanya, belum ada penelitian yang menemukan mekanisme 'sinkronasi' menstruasi pada tubuh wanita, kata ginekolog Dr. Jen Gunter.

Baca Juga: Raffi Ahmad Punya Masalah Tiroid, Ini Efeknya pada Kesehatan Seksual!

Selain itu, setiap wanita mengalami panjang siklus menstruasi yang bervariasi.

3. G-spot sebagai titik kepuasan wanita

Konsep G-spot, zona penginduksi kenikmatan yang seharusnya berada di dalam dinding depan vagina, telah menjadi topik populer selama bertahun-tahun.

Namun, konsep ini justru sulit dipahami karena kemungkinan G-spot tidak ada.

Bahkan, peneliti belum bisa menemukan tempat khusus ini.

Penulis buku 'The Vagina Bible', Gunter pun mengira Gräfenberg (penemu konsep G-spot) salah menafsirkan bagian lain dari organ intim wanita, seperti klitoris yang penuh saraf.

"Bagian bawah vagina, dekat dengan uretra, akan terasa 'hebat' bagi banyak wanita karena rangsangan di sini mengakses klitoris, tetapi dibutuhkan rangsangan yang tepat," katanya.

Ilustrasi beda hobi dengan pasangan. (Shutterstock)
Ilustrasi  pasangan. (Shutterstock)

4. Tidak dapat melakukan hubungan intim yang aman dengan penderita Penyakit Menular Seksual (PMS)

Sebenarnya PMS, seperti klamidia, sifilis, gonore, dan HIV, dapat diobati dengan obat-obatan untuk mencegah penularan penyakit ke pasangan.

Selain itu, orang dapat menurunkan risiko penyebaran PMS ke pasangannya jika mereka menggunakan kondom.

Tes PMS yang dilakukan secara teratur juga dapat mencegah penyebaran infeksi tanpa membahayakan kehidupan seks seseorang.

×
Zoomed
TERKINI
Mulailah dengan jumlah langkah yang lebih rendah dan tingkatkan secara bertahap agar tubuh bisa beradaptasi dengan baik....
info | 08:00 WIB
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB