Kasus Baru Virus Corona, Ditularkan Melalui Orang Tanpa Gejala

Menanggapi penelitian terbaru, CDC mengubah cara mendefinisikan risiko infeksi bagi orang Amerika. Mereka menegaskan bahwa siapa pun bisa menjadi pembawa atau penular Covid-19, meski tanpa gejala.

Yasinta Rahmawati | Fita Nofiana
Jum'at, 03 April 2020 | 21:30 WIB
Kasus Baru Virus Corona, Ditularkan Melalui Orang Tanpa Gejala

Kasus Baru Virus Corona, Ditularkan Melalui Orang Tanpa Gejala

himedik.com - Kasus virus corona baru yang berkembang, 10 persennya terinfeksi dari orang-orang tanpa gejala (asimtomatik) yang terlihat sehat. Kondisi tersebut tentu semakin menyulitkan dalam pemutusan rantai penyebaran.

Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti di Singapura dan diterbitkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS memperkirakan sekitar 10 persen infeksi Covid-19 dipicu oleh orang yang tidak mengalami gejala signifikan. Penelitian tersebut baru diterbitkan pada Rabu (1/4/2020).

Menanggapi penelitian terbaru, CDC mengubah cara mendefinisikan risiko infeksi bagi orang Amerika. Mereka menegaskan bahwa siapa pun bisa menjadi pembawa atau penular Covid-19, meski tanpa gejala. Demikian dilansir dari South China Morning Post.

Hal tersebut membuat jarak sosial menjadi lebih penting untuk menghindari penyebaran infeksi.

Ilustrasi masker dan virus corona. (Pixabay)
Ilustrasi virus corona. (Pixabay)

"Anda harus benar-benar proaktif dalam mengurangi kontak dengan orang-orang yang tampaknya sangat sehat," kata Lauren Ancel Meyers, seorang peneliti dari Universitas Texas di Austin.

Studi baru ini berfokus pada 243 kasus infeksi virus corona yang dilaporkan di Singapura dari pertengahan Januari hingga pertengahan Maret. Mereka juga meneliti 157 orang yang tidak pernah berpergian ke luar negeri.

Sebuah studi sebelumnya di provinsi Hubei, China, menunjukkan bahwa lebih dari 10 persen penularan terjadi sebelum pasien yang menyebarkan virus menunjukkan gejala.

Para peneliti juga melihat kemungkinan bahwa kasus-kasus tambahan dipicu oleh orang-orang tanpa gejala yang terinfeksi (asimptomatik). Begitu juga dengan orang-orang yang telah sembuh, namun masih menularkan virus (pra-gejala).

"Masih belum jelas berapa banyak infeksi baru yang disebabkan oleh masing-masing jenis penyebar potensial ini," kata Meyers.

Ilustrasi physical distancing. (Shutterstock)
Ilustrasi physical distancing. (Shutterstock)

 

Baca Juga: Jangan Malas Jalan dan Gerak, Manfaatnya Bisa Cegah Mati Muda

Pejabat CDC mengatakan mereka telah meneliti infeksi asimptomatik dan pra-gejala, tetapi penelitian masih belum lengkap.

Pada bulan-bulan awal pandemi, para pejabat kesehatan mendasarkan respon mereka pada keyakinan bahwa sebagian besar penyebarannya berasal dari orang-orang yang bersin atau batuk-batuk yang mengandung virus.

Dengan penelitian baru, anggapan tersebut telah terbantah dengan penularan dari orang-orang asimptomatik dan pra-gejala yang tampak sehat.

×
Zoomed
TERKINI
Mulailah dengan jumlah langkah yang lebih rendah dan tingkatkan secara bertahap agar tubuh bisa beradaptasi dengan baik....
info | 08:00 WIB
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB