Makan Opor Ayam saat Idul Fitri, Hati-hati Kadar Kolesterol Naik!

Daging ayam dalam opor ayam saat Idul Fitri juga bisa memengaruhi kadar kolesterol dalam tubuh, tidak hanya kandungan santannya.

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
Minggu, 24 Mei 2020 | 15:30 WIB
Ilustrasi opor ayam saat lebaran (Pixabay/polymanu)

Ilustrasi opor ayam saat lebaran (Pixabay/polymanu)

Himedik.com - Hari Idul Fitri identik dengan makanan seperti opor ayam yang bersantan. Tetapi, orang-orang tertentu mungkin perlu mempertimbangkan konsumsi daging ayam dan santan sekaligus.

Karena, makanan bersantan diyakini bisa meningkatkan kadar kolesterol tubuh. Padahal tidak hanya santan yang memengaruhi kolesterol naik, tetapi juga daging ayam.

Selama ini banyak orang memahami bahwa daging unggas lebih baik dari daging merah, terutama kaitannya dengan kadar kolesterol dalam darah.

Nyatanya, daging merah maupun daging ayam memiliki efek yang sama pada kadar kolesterol dalam tubuh.

Studi oleh American Journal of Clinical Nutrition dilansir oleh NBC News, menemukan konsumsi daging merah dan unggas bisa meningkatkan kadar kolesterol bila dibandingkan dengan protein nabati.

Sebab, kadar kolesterol yang tinggi berkaitan dengan banyaknya lemak jenuh dalam makanan, bukan sumber proteinnya.

Hidangan ketupat di Hari Raya Idul Fitri (Shutterstock)
Hidangan ketupat di Hari Raya Idul Fitri (Shutterstock)

"Ketika berbicara soal kolesterol, lemak jenuh memang lebih banyak ditemukan pada daging merah daripada daging unggas," kata Elizabeth Kitchin, asisten profesor ilmu gizi di University of Alabama di Birmingham.

Namun, tak disangka kalau daging ayam juga memiliki efek yang sama besarnya pada kolestero, sama seperti daging merah.

"Saya terkejut bahwa efek daging ayam pada kadar kolesterol sama besarnya dengan daging merah," kata Dr Ronald Krauss, direktur penelitian aterosklerosis di Children's Hospital, Oakland Research Institute.

Dalam studi tersebut, peneliti melibatkan 113 orang dewasa yang diminta menjalani 3 pola diet selama 3 bulan, yakni pola diet kaya daging sapi tanpa lemak, daging ayam tanpa lemak dan protein nabati.

Baca Juga: Bisa Turunkan Kolesterol, 5 Manfaat Labu Siam yang Perlu Anda Tahu

Setiap bulannya, peserta diminta menjalani pola diet yang berbeda. Sehingga semua peserta merasakan ketiga pola diet yang disarankan oleh peneliti.

Namun, setengah peserta menjalani pola diet yang terlepas dari sumber protein dan tinggi lemak jenuh. Separuh lainnya mengonsumsi makanan rendah lemak jenuh.

Setiap bulannya, peneliti selalu mengukur kadar kolesterol LDL atau kadar kolesterol jahat pada setiap peserta.

Hasilnya, kadar kolesterol yang tinggi berasal dari protein hewani, baik dari daging unggas maupun daging merah.

Para peneliti mengatakan bahwa temuan ini mungkin tidak berpengaruh pada orang yang tidak berisiko tinggi terkena penyakit jantung.

Tapi, peneliti menyarankan orang-orang yang ingin menurunkan kadar kolesterol LDL untuk menghindari daging unggas maupun daging merah.

×
Zoomed
Berita Terkait TERKINI
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB
Minum air memang benar membantu menghindari penyakit ginjal. Namun.......
info | 08:00 WIB