Penjelasan Introvert dan Ekstrovert secara Ilmiah, Anda yang Mana?

Tidak hanya dari segi psikologis, segi ilmiah juga dapat menjelaskan kepribadian ekstrovert dan introvert.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
Rabu, 10 Juni 2020 | 13:08 WIB
Penjelasan Introvert dan Ekstrovert secara Ilmiah, Anda yang Mana?

Penjelasan Introvert dan Ekstrovert secara Ilmiah, Anda yang Mana?

himedik.com - Dua tipe kepribadian introvert dan ekstrovert seakan sudah dikenal masyarakat luas. Perbedaan utama keduanya adalah pada bagaimana cara mereka mengisi energi.

Sementara seorang ekstrovert akan bersemangat saat bersama banyak orang, si introvert justru merasa energinya terkuras, itulah sebabnya mereka akan cepat merasa lelah. Intovert membutuhkan waktu sendiri untuk mengisi energinya.

Kedua istilah ini pertama kali diciptakan oleh psikolog Carl Jung pada awal 1900-an, tetapi psikolog Hans Eysenck yang lebih jauh menguraikannya pada 1950-an hingga 60-an.

Dilansir Science Alert, pada dasarnya, Eysenck menggambarkan ekstrovert dan introvert dengan garis dasar gairah mereka. Introvert membutuhkan lebih sedikit rangsangan untuk menjadi puas, sedangkan ekstrovert membutuhkan sedikit lebih banyak kegembiraan.

Misalnya, seorang introvert mungkin akan puas hanya dengan bersepeda santai, sedangkan ekstrovert lebih ingin pergi berjalan untuk mendapatkan kesenangan.

Ilustrasi introvert dan ekstrover. (Shutterstock)
Ilustrasi introvert dan extrovert (Shutterstock)

Tim dari AsapSCIENCE mengungkap ternyata ada cukup banyak penelitian yang menunjukkan memang ada kesenjangan dari cara berpikir dan merasa antara introvert dan ekstrovert.

Penelitian telah menemukan korteks prefrontal yang lebih tebal pada introvert dibandingkan dengan ekstrovert, yang berhubungan dengan pemikiran dan perencanaan yang lebih dalam. Ini menunjukkan bahwa introvert kurang impulsif daripada ekstrovert.

Itu bisa menjadi hal yang baik, tetapi juga bisa membuat orang introvert lebih rentan terhadap kecemasan dan depresi.

Studi neurologis juga menunjukkan extrovert merespon lebih kuat terhadap hadiah daripada introvert. Misalnya, hormon dopamin yang diaktifkan lebih kuat ketika ekstrovert memenangkan kompetisi, dibandingkan introvert.

Ekstrovert juga memiliki lebih banyak aktivasi dopamin ketika mereka terhubung dengan manusia lain. Dengan kata lain, introvert tidak memerlukan interaksi sosial sebanyak ekstrovert untuk merasa lebih baik.

Baca Juga: Jangan Percaya, 5 Mitos Soal Kepribadian Introvert dan Ekstrovert

Lalu, apakah salah satu dari dua kepribadian ini ada yang lebih baik?

Dari sudut pandang evolusi, baik introvert maupun ekstrovert akan memiliki keunggulan kompetitif di masa pemburu-pengumpul. Introvert yang kurang impulsif lebih mungkin untuk bertahan hidup dan ekstrovert, yang lebih mungkin menemukan sumber makanan atau air baru.

Meski demikian, penelitian menunjukkan mungkin ada pemenang yang jelas ketika mengaitkan ke kesuksesan sosial. Bukan introvert atau ekstrovert, melainkan tipe baru kelompok kepribadian yang disebut ambivert, yaitu orang-orang yang berada tepat di tengah spektrum.

×
Zoomed
TERKINI
Mulailah dengan jumlah langkah yang lebih rendah dan tingkatkan secara bertahap agar tubuh bisa beradaptasi dengan baik....
info | 08:00 WIB
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB