Pakai Terapi Hipotermia, Dokter Ini Selamatkan Pasien Covid-19 Kritis

Perawatan eksperimental ini dilakukan agar pasien Covid-19 lepas dari penggunaan ventilator.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 09:00 WIB
Pakai Terapi Hipotermia, Dokter Ini Selamatkan Pasien Covid-19 Kritis

Pakai Terapi Hipotermia, Dokter Ini Selamatkan Pasien Covid-19 Kritis

himedik.com - Sekelompok dokter di New York, Amerika Serikat, menggunakan perawatan eksperimental untuk pasien Covid-19 kritis yang harus dibantu dengan ventilator. Pengobatan itu adalah hipotermia terapeutik.

Hal ini ditemukan ketika para dokter di Northwell Health's North Shore University di Manhasset mulai putus asa dan bertanya-tanyaapakah ada hal yang dapat mereka lakukan untuk mencegah Covid-19 merusak tubuh pasien.

Ketika pasien yang sakit krotis membutuhkan bantuan ventilator, peningkatan metabolisme mereka justru menurunkan otot yang digunakan untuk bernapas, sehingga mereka sulit terlepas dari bantuan mesin.

Kadar karbondioksida dan asam yang tinggi dalam aliran darah, bercampur dengan rendahnya kadar oksigen, menciptakan suatu campuran yang mematikan. Hal ini meningkatkan kemungkinan gagal organ.

Selain itu, meski tubuh pasien Covid-19 terlihat seperti sedang tertidur, demam tinggi serta respons hiperinflamasi atau badai sitokin dapat menyedot energo respons hipermatbolik.

Medical ventilator yang sangat dibutuhkan para pasien Covid-19. Pabrikan otomotif juga akan menggarap ketersediaannya. Sebagai ilustrasi [Shutterstock].
Ilustrasi pasien Covid-19 memakai bantuan ventilator [Shutterstock].

Setelah mengalami semua ini, dokter mengingat hipotermia terapeutik atau terapi pendingnan. Penurunan suhu tubuh dapat menurunkan laju metabolisme, mengentikan tubuh menggunakan begitu banyak energi.

Kemudian hal ini diterapkan pada empat pasien yang sakit kritis dan diyakini hampir meninggal.

Setelah 48 pengobatan dan dokter telah menurunkan suhu tubuh pasien hingga 34,5 derajat Celcius, mereka menemukan bahwa hipotermia terapeutik efektif dalam meningkatkan kadar oksigen dan mengurangi aktivitas metabolik.

Hingga akhirnya mereka dapat menolong pasien terlepas dari penggunaan ventilator, lapor Fox News.

Atas temuan pengobatan ini, mereka mempublikasikan temuannya di jurnal medis akses terbuka Metabolism Open.

Baca Juga: Sejumlah Korban Banjir Meninggal karena Hipotermia, Waspadai Gejalanya

Ilustrasi pasien covid-19 mengalami koma. (Shutterstock)
Ilustrasi pasien covid-19 mengalami koma. (Shutterstock)

Hipotermia terapeutik juga digunakan dalam operasi jantung. Penelitian menunjukkan menurunkan suhu tubuh hingga 32 sampai 36 derajat Celcius selama 24 jam membantu menjaga fungsi otak pasien.

Meski begitu, praktik ini juga berisiko, termasuk peningkatan perdarahan, kelainan elektrolit, dan timbulnya aritmia.

Selain itu, menghangatkan kembali tubuh pasien dapat menimbulkan komplikasi berbahaya, seperti kejang, pembengkakan otak, dan meningginya kadar kalium.

Para dokter juga memperingatkan bahwa peningkatan jumlah metabolisme mungkin tidak membantu pasien tetap hidup.

Tetapi, terapi eksperimental ini nyatanya disetujui oleh Institut Penelitian Medis Feinstein untuk mendaftarkan lebih banyak pasien sebagai peserta dalam studi lebih lanjut.

×
Zoomed
TERKINI
Mulailah dengan jumlah langkah yang lebih rendah dan tingkatkan secara bertahap agar tubuh bisa beradaptasi dengan baik....
info | 08:00 WIB
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB