Mau Atasi Jerawat? Perlu Gabungan Pengobatan Dermatologis dan Psikologis

Psikolog mengatakan efek psikologis dari jerawat di kalangan remaja seringkali lebih toxic atau beracun.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
Selasa, 16 Februari 2021 | 15:00 WIB
Mau Atasi Jerawat? Perlu Gabungan Pengobatan Dermatologis dan Psikologis

Mau Atasi Jerawat? Perlu Gabungan Pengobatan Dermatologis dan Psikologis

himedik.com - Banyak orang mengalami masalah kulit, terutama jerawat. Meski sangat umum, dampak jerawat bisa lebih dari sekadar fisik.

Dua peneliti psikologi UC Riverside mengatakan diperlukan pendekatan yang lebih agresif untuk mengobati jerawat, dengan menggabungkan disiplin ilmu psikolgi dan dermatologi.

"Jerawat itu menyebar, secara fisik tidak berbahaya, dan tidak menimbulkan rasa sakit, jadi kita terlalu sering meremehkan dampaknya sebagai gangguan klasik pada masa remaja dan pubertas," kata penulis makalah Misaki Natsuaki, profesor psikologi UCR.

Namun, efek psikologis dari jerawat di kalangan remaja seringkali lebih toxic atau beracun, lapor News Medical Life Sciences.

"Jerawat dapat meninggalkan bekas luka psikologis, terutama selama masa remaja ketika penampilan fisik menjadi lebih menonjol sebagai harga diri, dan psikopatologi internal, seperti depresi, semakin menonjol," kata Natsuaki.

Jerawat di dagu. (Pixabay/Kjerstin Michaela Noomi Sakura Gihle Martinsen Haraldsen)
Jerawat di dagu. (Pixabay/Kjerstin Michaela Noomi Sakura Gihle Martinsen Haraldsen)

Sejumlah penelitian menunjukkan hubungan langsung antara jerawat dan depresi, kecemasan, dan pikiran untuk bunuh diri.

Remaja dengan jerawat lebih sulit menjalin persahabatan, menemukan kekasih, dan merasa tertinggal di sekolah.

Saat diperlihatkan foto seorang remaja dengan wajah berjerawat, 65% remaja mengatakan bahwa kulit adalah hal pertama yang mereka perhatikan. Banyak orang mengaitkan remaja berjerawat sebagai ciri-ciri kutu buku, stres, dan kesepian.

Penelitian juga telah menunjukkan perempuan mengalami dampak negatif psikologis lebih tinggi daripada laki-laki.

Rekan dari Natsuaki, Tuppett Yates yang juga profesor psikologi di UCR, mengatakan beban psikologis penderita jerawat setara dengan penyakit serius lainnya, seperti diabetes.

Baca Juga: Akibat Sembarangan Memencet Jerawat di Hidung, Wajah Wanita Ini Bengkak

Karenanya, diperlukan pengobatan gabungan antara bidang kedokteran, psikologi, dan sosiologi.

"Jerawat adalah suatu kondisi medis dengan efek psikologis yang jelas, efek yang tidak terkait dengan jenis kelamin, warna kulit, dan status sosial ekonomi. Jadi perawatan jerawat yang efektif terletak pada persimpangan antara kedokteran, psikologi, dan sosiologi," tandas Yates.

×
Zoomed
TERKINI
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB
Minum air memang benar membantu menghindari penyakit ginjal. Namun.......
info | 08:00 WIB