Info

Haruskah Orang Alergi Konjungtivitis Menghindari Vaksin Covid-19?

Beberapa orang dengan alergi konjungtivitis maupun hay fever mungkin ragu untuk suntik vaksin Covid-19.

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni

Ilustrasi virus corona Covid-19. (Shutterstock)
Ilustrasi virus corona Covid-19. (Shutterstock)

Himedik.com - Sejak awal kemunculan vaksin Covid-19, orang yang memiliki riwayat alergi tertentu memang disarankan mempertimbangkan ulang vaksinasi.

Tapi, beberapa orang yang memiliki alaergi hay fever mungkin juga khawatir jika harus suntik vaksin Covid-19. Hay fever adalah penyakit alergi serbuk sari dalam jumlah tinggi yang menyebabkan demam, batuk, dan bersin.

Pada akhir Desember 2020 lalu dilansir dari Mirror UK, Badan Pengatur Produk Obat dan Kesehatan telah mengeluarkan penyataan setelah meninjau lebih dari 1 juta dosis di Inggris dan Amerika Utara.

Mereka mengatakan bahwa tidak ada bukti peningkatan risiko reaksi alergi terhadap vaksin Pfizer. Satu-satunya penghalang adalah orang yang alergi terhadap vaksin Covid-19 itu sendiri.

Mereka menekankan bahwa alergi bawaan bukan berarti melarang seseorang untuk melakukan vaksin Covid-19. Kecuali, mereka alergi terhadap vaksin tersebut atau kandungannya.

Ilustrasi vaksin COVID-19. (unsplash/@dimitrihou)
Ilustrasi vaksin COVID-19. (unsplash/@dimitrihou)

Rebecca E Glover dan rekan dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, UCLH London dan Harvard Medical School, AS, mengatakan menolak vaksin karena memiliki alergi akan mengkhawatirkan di masa pandemi sekarang ini.

Karena, 20 hingga 40 persen populasi di Inggris dan Amerika Serikat memiliki setidaknya satu bentuk alergi, termasuk hay fever, konjungtivitis, asma, eksim dan dermatitis kontak, alergi makanan serta utikaria.

Kekhawatiran lainnya adalah penerimaan publik terhadap vaksin Covid-19 nampaknya semakin berkurang. Awalnya, antusias publik terhadap vaksin Covid-19 mencapai 90 persen, tetapi sudah menurun 64 persen sejak Juli 2020.

Saah satu masalahnya adalah keraguan terhadap vaksin Covid-19 nampaknya lebih tinggi di kalangan etnis minoritas. Karena, mereka paling rentan terhadap virus corona Covid-19.

Menurutnya, para ahli harus lebih transparan mengenai risiko alergi di balik vaksin Covid-19 dengan semua orang secara umum.

Hal terpenting adalah risiko alergi yang parah bukan berarti seseorang harus menghindari vaksinasi, kecuali mereka alergi terhadap vaksin itu sendiri.

Rebecca juga berpendapat bahwa kepercayaan publik akan meningkat jika pemberian dan efek samping dari vaksin Covid-19 diinformasikan secara terbuka.

Para ahli juga perlu menjelaskan perbedaan antara alergi parah, sedang, dan ringan terkait risiko pengambilan vaksin Covid-19.

Berita Terkait

Berita Terkini