Studi: Perubahan Otak Ditemukan pada Mantan Pasien Covid-19

Infeksi virus corona Covid-19 bisa memberi dampak buruk yang tinggal di tubuh meski sudah dinyatakan sembuh.

Yasinta Rahmawati
Kamis, 24 Juni 2021 | 07:30 WIB
Studi: Perubahan Otak Ditemukan pada Mantan Pasien Covid-19

Studi: Perubahan Otak Ditemukan pada Mantan Pasien Covid-19

himedik.com - Bertahan dari infeksi Covid-19 tidak berarti tubuh, khususnya otak, akan tetap sama. Belakangan ditemukan bahwa Covid-19 telah terbukti memiliki efek merugikan pada fungsi otak.

Sebuah studi pra-cetak yang berbasis di Universitas Oxford dan Imperial College, London, Inggris Raya (UK) adalah yang pertama untuk mendokumentasikan bukti perubahan otak usai terinfeksi Covid-19.

Menggunakan database Biobank Inggris, para peneliti memiliki akses ke gambar pemindaian otak MRI pasien Covid-19 beberapa bulan sebelum infeksi mereka. Lebih dari 700 pasien dibawa kembali untuk pemindaian otak baru. Sekitar setengah dari mereka sebelumnya terinfeksi Covid-19.

Studi ini menemukan hilangnya materi abu-abu di otak pada pasien, khususnya di area otak yang memengaruhi rasa, penciuman, memori, dan emosi.

Materi abu-abu otak sendiri mengandung sebagian besar jaringan dan sel saraf, dan bertanggung jawab untuk memproses sinyal yang dihasilkan di organ sensorik.

Ilustrasi Pasien Covid-19. (Pexels)
Ilustrasi Pasien Covid-19. (Pexels)

Karena hilangnya indra penciuman (anosmia) telah menjadi ciri yang diketahui dari infeksi awal Covid-19, serta salah satu gejala Long Covid, tidak mengherankan jika pemindaian otak menunjukkan kelainan pada penciuman area otak dibandingkan dengan sebelum infeksi.

Namun penulis penelitian mengakui bahwa masih harus ditentukan apakah saraf penciuman adalah titik masuk langsung dari virus itu sendiri, atau hanya manifestasi umum dari penyakit akut dan kronis.

Dr. George Diaz adalah ahli saraf di Memorial Healthcare System di Florida Selatan mengatakan studi baru dari Oxford ini masuk akal, mengingat sifat virusnya.

"Covid-19 bukan hanya penyakit pernapasan, tetapi penyakit pembuluh darah yang memengaruhi sirkulasi otak dan jantung," katanya dikutip dari Newschannel9, seraya menambahkan bahwa sekitar 1 dari 3 pasien Covid-19 melaporkan gejala neurologis atau psikologis dari virus tersebut.

Dia mengatakan lebih banyak penelitian perlu dilakukan untuk memahami dampak jangka panjang pada otak, dan apakah pasien dapat kembali ke fungsi otak normal pada akhirnya.

Baca Juga: Remaja Obesitas Lebih Berisiko Diabetes dan Serangan Jantung saat Dewasa

×
Zoomed
TERKINI
Mulailah dengan jumlah langkah yang lebih rendah dan tingkatkan secara bertahap agar tubuh bisa beradaptasi dengan baik....
info | 08:00 WIB
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB