Remaja Obesitas Lebih Berisiko Diabetes dan Serangan Jantung saat Dewasa

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa obesitas saat remaja tingkatkan risiko terkena diabetes tipe 2 atau serangan jantung

Fita Nofiana
Rabu, 23 Juni 2021 | 13:30 WIB
Remaja Obesitas Lebih Berisiko Diabetes dan Serangan Jantung saat Dewasa

Remaja Obesitas Lebih Berisiko Diabetes dan Serangan Jantung saat Dewasa

himedik.com - Obesitas masa remaja tingkatkan risiko diabetes tipe 2 dan masalah jantung di masa tua, bahkan setelah menurunkan berat badan. Kondisi tersebut bisa berkembang di usia 30 hingga 40-an. 

"Masa remaja adalah periode waktu yang penting untuk mencegah diabetes dan serangan jantung di masa depan," kata penulis studi Dr. Jason Nagata, asisten profesor pediatri di divisi kedokteran remaja dan dewasa muda di University of California, San Francisco seperti yang dikutip dari USA News.

Untuk studi baru ini, para peneliti menganalisis data pada 12.300 remaja yang diikuti selama 24 tahun. Mereka adalah bagian dari National Longitudinal Study of Adolescent to Adult Health AS. 

Melansir dari USA News, para peneliti melacak indeks massa tubuh (BMI) anak-anak ini. BMI adalah ukuran lemak tubuh berdasarkan tinggi dan berat badan.

Jika dibandingkan dengan remaja yang memiliki skor BMI lebih rendah, remaja dengan skor yang lebih tinggi memiliki hampir 9 persen peningkatan risiko terkena diabetes tipe 2, 0,8 persen risiko lebih besar untuk mengalami serangan jantung di usia 30-an dan 40-an, serta 2,6 persen lebih tinggi mengalami risiko masalah kesehatan lainnya. 

Ilustrasi obesitas. (Sumber: https://edition.cnn.com/2015/05/01/health/pacific-islands-obesity/index.html)
Ilustrasi obesitas. (Sumber: https://edition.cnn.com/2015/05/01/health/pacific-islands-obesity/index.html)

Para peneliti juga mengontrol faktor-faktor lain yang diketahui mempengaruhi hasil kesehatan, seperti ras/etnis, penggunaan tembakau, dan alkohol.

"Orangtua harus mendorong remaja untuk mengembangkan perilaku sehat, seperti aktivitas fisik secara teratur dan makanan seimbang," kata Nagata. 

Temuan ini dipublikasikan secara online pada 21 Juni di Journal of American College of Cardiology.

"Apa yang Anda makan di awal kehidupan berdampak pada apa yang terjadi pada Anda nantinya," kata Dr. Andrew Freeman, direktur pencegahan dan kesehatan kardiovaskular di National Jewish Health, di Denver.

Untuk mencegah obesitas, orang tua harus mendorong kebiasaan sehat, seperti jalan-jalan keluarga dan memasak serta berbelanja makanan sehat bersama.

Baca Juga: Demi Jaga Keharmonisan, Berapa Kali Anda Harus Berhubungan Seks?

"Ketika anak-anak mengalami kenaikan berat badan, ambil langkah dengan cara yang cerdas dan suportif untuk membantu meminimalkan kenaikan berat badan dan mendorong gaya hidup yang lebih sehat," kata Dr. Scott Kahan, direktur National Center for Weight and Wellness, di Washington, D.C.

×
Zoomed
TERKINI
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB
Minum air memang benar membantu menghindari penyakit ginjal. Namun.......
info | 08:00 WIB