Studi: Manusia Banyak Habiskan Waktu dengan Mengkhayal dan Bengong

Para ilmuwan memperkirakan bahwa setengah dari hidup kita dihabiskan dengan berkhayal dan begong.

Fita Nofiana
Minggu, 04 Juli 2021 | 07:30 WIB
Studi: Manusia Banyak Habiskan Waktu dengan Mengkhayal dan Bengong

Studi: Manusia Banyak Habiskan Waktu dengan Mengkhayal dan Bengong

himedik.com - Sebuah studi menunjukkan bahwa kebanyakan orang secara tidak sadar menghabiskan waktu dengan bengong. Hal ini mencolok, mengingat potensi konsekuensi negatif dari penurunan kinerja sekolah atau pekerjaan hingga kecelakaan lalu lintas yang tragis.

Melansir dari Healthshots, kita tahu bahwa pikiran yang mengembara dan kehilangan perhatian lebih sering terjadi ketika kurang tidur. Hal ini menunjukkan bahwa hal itu mungkin terjadi ketika neuron di otak mulai berperilaku seperti tidur. 

Dalam hal ini, para peneliti menguji hubungan antara tidur dan kehilangan perhatian. Penelitian mereka telah diterbitkan di Nature Communications.

Dengan memantau gelombang otak orang terhadap keadaan perhatian yang dilaporkan sendiri, para peneliti menemukan bahwa pengembaraan pikiran tampaknya terjadi ketika bagian otak tertidur sementara sebagian besar tetap terjaga.

"Ketika kita lelah, kendali perhatian kita menjadi kacau. Pada saat yang sama, otak kita mulai menunjukkan aktivitas lokal yang menyerupai tidur sementara sebagian besar otak tampak jelas terjaga," catat para peneliti. 

Ilustrasi seorang anak sedang melamun (Shutterstock).
Ilustrasi seorang anak sedang melamun (Shutterstock).

"Fenomena ini, yang dikenal sebagai tidur lokal, pertama kali terlihat pada hewan yang kurang tidur dan kemudian pada manusia," imbuh mereka.

Peneliti menemukan gelombang lambat lokal dapat memprediksi episode pikiran mengembara dan mengosongkan pikiran serta perubahan perilaku peserta selama penyimpangan perhatian ini.

Lokasi gelombang lambat membedakan apakah peserta sedang mengembara atau mengosongkan pikiran. Ketika gelombang lambat terjadi di bagian depan otak, partisipan memiliki kecenderungan untuk lebih impulsif dan pikiran mengembara.

Sementara itu, ketika gelombang lambat terjadi di bagian belakang otak, peserta menjadi lebih lamban, tidak memberikan tanggapan, dan pikiran kosong.

Baca Juga: Simak, Ini Perbedaan Vaksin Sinovac, Sinopharm, Moderna dan AstraZeneca

×
Zoomed
TERKINI
Mulailah dengan jumlah langkah yang lebih rendah dan tingkatkan secara bertahap agar tubuh bisa beradaptasi dengan baik....
info | 08:00 WIB
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB