Prediksi WHO: Pengidap Demensia di Dunia Bisa Bertambah hingga 139 Juta

Demensia atau kepikunan disebabkan oleh berbagai penyakit dan cedera yang memengaruhi otak, seperti penyakit alzheimer atau stroke.

Yasinta Rahmawati
Senin, 06 September 2021 | 07:30 WIB
Prediksi WHO: Pengidap Demensia di Dunia Bisa Bertambah hingga 139 Juta

Prediksi WHO: Pengidap Demensia di Dunia Bisa Bertambah hingga 139 Juta

himedik.com - Saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 55 juta orang hidup dengan demensia dan jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah setiap tahun. 

Jumlah itu diperkirakan akan meningkat menjadi 78 juta pada 2030 dan terus semakin banyak hingga mencapai 139 juta orang pada 2050.

Demensia atau kepikunan disebabkan oleh berbagai penyakit dan cedera yang memengaruhi otak, seperti penyakit alzheimer atau stroke. Kondisi itu memengaruhi memori dan fungsi kognitif lainnya, serta kemampuan untuk melakukan tugas sehari-hari. 

Sementara biaya untuk pengobatan demensia sendiri tidak murah. WHO mencatat, pada 2019, biaya global demensia diperkirakan mencapai US$1,3 triliun. Biaya itu diperkirakan akan meningkat menjadi US$1,7 triliun pada tahun 2030. Bahkan mencapai US$2,8 triliun jika dengan kenaikan biaya perawatan.

"Demensia merampas jutaan ingatan, kemandirian. Juga merampas orang-orang yang kita kenal dan cintai," kata Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO, dikutip dari situs resmi WHO.

Tedros menekankan, diperlukan lebih banyak dukungan, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Perawatan yang diperlukan untuk orang dengan demensia meliputi perawatan kesehatan primer, perawatan spesialis, layanan berbasis komunitas, rehabilitasi, perawatan jangka panjang, dan perawatan paliatif. 

Sementara sebagian besar negara (89 persen di antaranya) yang melaporkan ke Observatorium Demensia Global WHO mengatakan bahwa mereka menyediakan beberapa layanan berbasis komunitas untuk demensia. 

Namun, penyediaan lebih tinggi di negara-negara berpenghasilan tinggi daripada di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, kata WHO.

Obat untuk demensia, produk kebersihan, teknologi bantu dan penyesuaian rumah tangga, bagi pengidap demensia juga lebih mudah diakses di negara-negara berpenghasilan tinggi, dengan tingkat penggantian yang lebih besar, daripada di negara-negara berpenghasilan rendah.

Baca Juga: Tingkat Perlindungan Vaksin Covid-19 Pada 8 Kondisi Kesehatan Ini Rendah

(Suara.com/Lilis Varwati)

×
Zoomed
TERKINI
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB
Minum air memang benar membantu menghindari penyakit ginjal. Namun.......
info | 08:00 WIB