Ketahui Beda Toxic Positivity dan Optimisme

Toxic positivity justru berbahaya bagi kesehatan mental.

Yasinta Rahmawati
Selasa, 26 Oktober 2021 | 12:00 WIB
Ketahui Beda Toxic Positivity dan Optimisme

Ketahui Beda Toxic Positivity dan Optimisme

himedik.com - Selalu menuntut diri untuk melihat sisi positif dari setiap situasi sulit bukanlah hal yang baik, bahkan bisa berubah menjadi toxic positivity.

Mengutip dari Live Strong, toxic positivity adalah gagasan bahwa pemikiran positif harus selalu disukai daripada emosi negatif.

"Ini adalah upaya aktif untuk mengabaikan atau mengesampingkan pikiran atau perasaan yang kurang menyenangkan seperti kemarahan, kesedihan atau frustrasi," kata uhee Jhalani, PhD , seorang psikolog klinis yang berbasis di New York City.

Tidak dapat disangkal, afirmasi positif seperti "jangan menyerah ya", "kamu harus bersyukur karena lebih beruntung" dan lainnya dapat memberikan kenyamanan dan harapan saat Anda sangat membutuhkannya.

Padahal, jika mempertahankan pola pikir positif ini secara terus menerus tak peduli seberapa berat situasi, bakal berpotensi merusak diri sendiri maupun orang lain.

Ilustrasi curhat (freepik.com/shurkin-son)
Ilustrasi curhat (freepik.com/shurkin-son)

Toxic positivity gagal mempertimbangkan kompleksitas kehidupan dan spektrum penuh emosi yang menyertainya, menurut Jhalani.

Sebab, toxic positivity terlalu menyederhanakan situasi, yang memandang bahwa kepositifan dapat memperbaiki apa pun yang salah dalam hidup seseorang. Dan dengan melakukan itu, justru dapat meminimalkan emosi seseorang yang sangat nyata dan menyakitkan.

Perlu dipahami bahwa toxic positivity berbeda dari optimisme.

Optimisme membuat seseorang berpegang pada realita, sedangkan toxic positivity memegang gagasan bahwa semuanya akan baik-baik saja, meski kenyataannya tidak.

Kata Jhalani, toxic positivity menyangkal emosi gelap dan menumbuhkan optimisme yang dipaksakan. Sementara, optimisme yang penuh harapan dapat membantu kita menghadapi tantangan dan mengatasi peluang baru, sehingga mendorong kita untuk tumbuh dan berjuang untuk masa depan yang lebih baik.

Baca Juga: Bakar Lemak Visceral yang Berbahaya, Cobalah Konsumsi Buah Ini!

"Anda bisa menjadi realistis sambil tetap optimis," kata Jhalani. Dengan kata lain, orang yang optimis dapat memproses dan mengatasi perasaan sulit dan tetap mempertahankan pandangan yang umumnya penuh harapan.

×
Zoomed
TERKINI
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB
Minum air memang benar membantu menghindari penyakit ginjal. Namun.......
info | 08:00 WIB