Teknologi Vaksin Covid-19 Baru Ini Tidak Perlu Disimpan di Ruang Pendingin!

Vaksin berhasil dibuat beku-kering, kemudian dilarutkan tanpa kehilangan kemanjuran.

Rosiana Chozanah
Selasa, 09 November 2021 | 13:30 WIB
Teknologi Vaksin Covid-19 Baru Ini Tidak Perlu Disimpan di Ruang Pendingin!

Teknologi Vaksin Covid-19 Baru Ini Tidak Perlu Disimpan di Ruang Pendingin!

himedik.com - Semua vaksin Covid-19 yang saat ini tersedia memelukan penyimpanan dingin dan kapasitas produksi yang canggih. Hal ini dianggap sulit untuk memproduksi dan mendistribusikannya secara luas, terutama di negara-negara berkembang.

Dari masalah ini, peneliti yang dipimpin oleh Hidde Ploegh, Ph.D, mengembangkan jenis vaksin yang diklaim berpotensi lebih mudah diproduksi dan tidak memerlukan pendinginan.

Hidde Ploegh dan kedua rekannya, Novalia Pishesha dan Thibault Harmand, percaya bahwa teknologi mereka ini dapat membantu mengisi kesenjangan vaksinasi global dan dapat diterapkan untuk vaksin lainnya (bukan hanya vaksin Covid-19 saja).

Berdasarkan uji percobaan terhadap tikus, vaksin ini menimbulkan respons imun yang kuat terhadap SARS-CoV-2 dan variannya.

Vaksin berhasil dibuat beku-kering, kemudian dilarutkan tanpa kehilangan kemanjuran. Dalam pengujian, vaksin tetap stabil dan kuat selama minimal tujuh hari pada suhu kamar, lapor Medical Xpress.

ilustrasi vaksinasi Covid-19. [Envato]
ilustrasi vaksinasi Covid-19. [Envato]

Tidak seperti vaksin Covid-19 yang saat ini tersedia, desain baru ini sepenuhnya berbasis protein sehingga memudahkan banyak fasilitas untuk memproduksinya.

Vaksin ini memiliki dua komponen, yakni antibodi yang berasal dari hewan alpaca yang dikenal nanobodi, dan bagian dari protein lonjakan virus yang mengikat reseptor pada sel manusia.

"Kita juga bisa menggunakan seluruh protein lonjakan atau bagian lain dari virus dan kita dapat mengubah vaksin untuk varian SARS-CoV-2 lain secara cepat dan mudah," ujar Pishesha.

Tim peneliti telah mengajukan paten pada teknologi baru mereka dan sedang mengharapkan perusahaan biotek atau farmasi melanjutkan penelitian mereka ke pengujian lebih lanjut dam akhirnya, studi klinis.

"Mungkin aplikasi awal adalah vaksin lain selain untuk Covid-19. Studi ini adalah bukti bahwa konsep pendekatan berbasis protein kami bekerja dengan baik," tandas Ploegh.

Baca Juga: Suntikan Booster Vaksin Pfizer Bisa Picu Limfadenopati, Apa Itu?

×
Zoomed
TERKINI
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB
Minum air memang benar membantu menghindari penyakit ginjal. Namun.......
info | 08:00 WIB