Wanita

Artis Terlibat Prostitusi Online, Psikolog Jelaskan Faktornya

Pribadi berkarakter narsistik melakukannya untuk menunjukkan dirinya pada dunia.

Dinar Surya Oktarini | Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana

Vanessa Angel di Polda Jatim, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (6/1/2019). - Suara.com/Achmad Ali
Vanessa Angel di Polda Jatim, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (6/1/2019). - Suara.com/Achmad Ali

Himedik.com - Dua figur publik yang terlibat prostitusi online digerebek di sebuah hotel di Surabaya, Sabtu (5/1/2018). Kedua pelaku yang diduga melakukan prostitusi itu, Vanessa Angel dan Avriellia Shaqqila, dikabarkan memasang tarif masing-masing Rp 80 juta dan Rp25 juta.

''Saat dilakukan penggerebekan diamankan empat orang wanita tengah melayani pelanggan pria di kamar hotel. Dua di antaranya artis dari Jakarta,'' kata Wakil Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jatim, AKBP Arman Asmara, dikutip dari Suara.com.

Setelah menjalani pemeriksaan, Vanessa dan Avriella meminta maaf di hadapan awak media.

Kabar ini pun tak ayal mengejutkan publik, terutama followers akun media sosial kedua artis itu. Kejadian ini juga tak luput dari tanggapan ahli, yang melihat fenomena ini dari sudut pandang psikologi.

Menurut penjelasan Psikolog Bertha Sekunda, siapa pun yang terlibat prostitusi online merupakan korban media sosial. Melalui media sosial, terdapat dua hal yang bisa mereka lakukan hingga berujung pada prostitusi online: promosi diri sendiri dan promosi bisnis.

''Secara umum penggunaan social media itu untuk self-promotion atau promosi diri sendiri, self-branding. Pribadi berkarakter narsistik melakukannya untuk menunjukkan dirinya pada dunia, seperti apa dirinya,'' kata Bertha kepada Himedik.com melalui sambungan telepon, Senin (7/1/2019).

Semakin maju teknologi, media sosial seolah memberi wadah bagi pribadi yang memiliki kepercayaan diri berlebih.

''Dulu belum ada teknologi seperti ini, sedangkan sekarang ada media sosial untuk mewadahi mereka yang ingin 'dilihat', misalnya hashtag di Instagram'' tambah Bertha.

Psikolog Bertha Sekunda - (Twitter/@berthasekunda)
Psikolog Bertha Sekunda - (Twitter/@berthasekunda)

 

Selain promosi diri sendiri, promosi bisnis juga bisa dilakukan melalui media sosial. Sayangnya, bisnis yang dijalani kedua artis yang sedang disoroti saat ini justru mencoreng namanya.

''Promosi bisnis itu, misalnya seperti di website, produk-produk yang dijual di-display fotonya. Dalam fenomena ini, lewat self-promotion tadi, promosi bisnis dilakukan sekaligus, jadi menjual jasa, melalui media sosial,'' ujar Bertha.

Bertha mengatakan, sudah banyak penelitian yang dilakukan terhadap prostitusi online, yang sebelum teknologi berkembang hanya berupa lokalisasi.

Dirinya merumuskan tiga hal yang mempengaruhi seseorang nekat memasuki dunia prostitusi. Ketiga aspek itu yakni kontrol diri, norma, dan gaya hidup.

''Kalau karakter seseorang itu, misalnya dia bisa mengontrol diri, kalau ada sesuatu yang dijual, dia enggak akan beli jika tidak penting, walaupun mungkin sebenarnya dia mampu. Seperti itu, jika seorang artis bisa mengontrol diri, meskipun dia narsis dan cantik, dia bisa menghindari prostitusi online ini,'' kata Bertha.

''Yang kedua, norma, sebenarnya sama ya seperti kontrol diri, tapi ini saya pisahkan. Norma ini penting dalam kehidupan sosial. Lalu gaya hidup, hubungannya dengan kebutuhan finansial yang tiada henti. Kalau sudah merasakan mendapat banyak uang dengan mudah, dia akan ketagihan. Mereka ini korban kapitalisme global dan social media,'' imbuh Bertha.

Terkait hal ini, Bertha mengimbau para orangtua mengawasi anak-anaknya lantaran saat ini makin banyak anak di bawah umur yang sudah aktif di media sosial. Dirinya juga mendorong para pengguna media sosial untuk mempertajam iman dan kontrol diri.

''Jadi supaya mereka bisa membedakan apa yang perlu dan tidak, yang boleh dan tidak. Berlakulah sama di media sosial dan bersosialisasi di kehidupan nyata. Kalau harus pakai pakaian rapi dan sopan di media sosial, begitu juga ketika bersosialisasi,'' ungkap Bertha.

''Kan kekurangan media sosial ini tidak ada touch secara langsung ya, jadi tidak terasa human connection-nya. Kalau di kenyataan kan kita bisa lihat langsung reaksi mata orang yang melihat cara berpakaian kita, gitu contohnya,'' tutup Bertha.

Berita Terkait

Berita Terkini