Wanita

Suntik Vaksin AstraZeneca, Wanita 35 Tahun Alami Stroke hingga Meninggal

Seorang wanita mengalami stroke hingga meninggal dunia setelah suntik vaksin AstraZeneca.

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni

Vaksin AstraZeneca, vaksinasi. (Pixabay)
Vaksin AstraZeneca, vaksinasi. (Pixabay)

Himedik.com - Seorang wanita usia 35 tahun mengalami stroke hingga meninggal dunia setelah suntik vaksin AstraZeneca. Dua orang lain juga mengalami komplikasi setelah suntik vaksin tersebut, tetapi berhasil selamat.

Seorang dokter London mengatakan tanda-tanda yang harusnya diwaspadai agar tidak kejadian seperti wanita 35 tahun itu adalah kelemahan pada wajah, lengan, kaki, sakit kepala dan gangguan bicara.

Masalah pembekuan darah langka setelah suntik vaksin AstraZeneca telah dikaitkan dengan penyakit stroke, terutama pada orang yang masih berusia muda.

Sampai sekarang, masalah pembekuan darah ini diperkirakan mempengaruhi vena tertentu yang memasok otak dan perut. Tapi, studi kasus ini menunjukkan pembekuan darah juga bisa memengaruhi arteri utama yang menyebabkan stroke.

Para ahli menekankan bahwa kasus stroke dan pembekuan darah sangat jarang terjadi. Hal itu terjadi karena orang Inggris yang usianya lebih muda dari 40 tahun tidak lagi diberi suntikan vaksin AstraZeneca.

Ilustrasi vaksin AstraZeneca. (Dok : Istimewa)
Ilustrasi vaksin AstraZeneca. (Dok : Istimewa)

Karena dilansir dari The Sun, vaksin AstraZeneca dinilai lebih berisiko bagi orang usia di bawah 40 tahun. Sebaliknya, mereka akan diberi vaksin Pfizer atau vaksin Moderna untuk meminimalkan risiko efek samping yang serius.

Sementara itu, para ahli dari Rumah Sakit Nasional untuk Neurologi dan Bedah Saraf di UCL, merinci 3 kasus stroke yang terjadi di Inggris. Wanita usia 35 tahun yang meninggal dunia, mengalami sakit kepala intermiten di sisi kanan dan sekitar matanya selama 6 hari setelah vaksinasi.

Setelah 5 hari, ia sempat terbangun dengan rasa kantuk dan kelemahan pada wajah, lengan dan kakinya. Ia pun menjalani operasi otak untuk mengurangi tekanan di tengkoraknya bersamaan dengan perawatan medis lainnya.

Pasien kedua, seorang wanita kulit putih usia 37 tahun, menderita sakit kepala, kebingungan, kelemahan di lengan kiri dan kehilangan penglihatan di sisi kiri wajah selama 12 hari setelah vaksinasi. Tapi, ia selamat setelah menjalani perawatan medis.

Pasien ketiga, seorang pria usia 43 tahun yang dirawat di rumah sakit 3 minggu setelah vaksinasi karena masalah berbicara dan memahami bahasa. Ia sempat menjalani transfuse trombosit dan plasma bersamaan dengan pengobatan lain, tetapi selamat dan tetap stabil.

Dalam semua kasus, pasien mengalami stroke iskemik yang disebabkan oleh penyumbatan arteri besar untuk memasok darah ke otak. Stroke iskemik adalah jenis stroke paling umum yang terjadi pada orang usia 55 tahun ke atas.

Ketiga kasus ini pertama kalinya dilaporkan setelah suntik vaksin Covid-19 AstraZeneca. Menurut laporan Journal of Neurology Neurosurgery & Psychiatry, ketiga pasien juga memiliki jumlah trombosit yang rendah.

Gumpalan darah dengan jumlah trombosit rendah setelah vaksinasi disebut trombosis dan trombositopenia yang diinduksi oleh vaksin (VITT). Mereka biasanya terlihat di pembuluh darah yang lebih kecil dan biasanya mengalirkan darah dari otak.

"Studi kami menunjukkan bahwa stroke iskemik jauh lebih umum, karena trombosis arteri yang menghalangi aliran darah ke bagian otak mungkin juga dari trombosis yang diinduksi oleh vaksin," jelas David Werring, profesor neurologi klinis di UCL.

Ian Douglas, seorang profesor farmakoepidemiologi di London School of Hygiene & Tropical Medicine, mengaku sudah memiliki beberapa bukti bahwa jenis pembuluh darah yang terkena, termasuk arteri dan vena.

"Tapi, kasus seperti ini sangat jarang dan pasti jauh lebih jarang terjadi pada orang yang pernah suntik vaksin AstraZeneca daripada orang yang terkena virus corona Covid-19," jelasnya.

Berita Terkait

Berita Terkini

wanita

Vagina Terasa Kendur? Ini Penyebabnya

Umumnya, kulit akan kehilangan kelembapan dan elastisitas seiring bertambahnya usia. Hal yang sama juga dapat terjadi pada vulva dan dinding vagina.