Benarkah Kurang Tidur Pengaruhi Berat Badan?

Percayakah kamu dengan anggapan tersebut?

Rauhanda Riyantama | Yuliana Sere
Senin, 27 Agustus 2018 | 07:15 WIB
Gangguan tidur bisa pengaruhi berat badan. (unsplash)

Gangguan tidur bisa pengaruhi berat badan. (unsplash)

Himedik.com - Banyak penelitian telah mengamati hubungan antara tidur yang terganggu dan kenaikan berat badan terutama bagi mereka yang kerja shift dan mereka yang insomnia.

Mereka yang masuk dalam kategori ini memiliki risiko obesitas yang lebih tinggi, dikutip dari medicaldaily. Temuan baru menunjukkan memang ada reaksi dalam tubuh ketika kita tak cukup tidur yang mengarah ke penyimpanan lebih banyak lemak dan hilangnya massa otot.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), 35 persen orang dewasa di Amerika Serikat tidak cukup istirahat setiap malam. Padahal orang dengan usia 18 hingga 60 tahun harus tidur setidaknya 7 jam setiap malam.

Jonathan Cedernaes, seorang peneliti sirkadian di Uppsala University di Swedia menjelaskan tidur memiliki fungsi yang tak tergantikan.

''Tidur bukan hanya untuk menghemat energi, tetapi memiliki banyak fungsi,'' katanya. Untuk menguji itu, penelitian ini mengambil 15 pria sehat sebagai sampel.

Gangguan tidur bisa pengaruhi berat badan. (unsplash)
Gangguan tidur bisa pengaruhi berat badan. (unsplash)

 

Mereka diteliti pada dua hari yang berbeda, pertama setelah mendapatkan tidur malam yang baik dan hari kedua setelah mereka terjaga sepanjang malam.

Ketika diperiksa, tim peneliti menemukan peningkatan kadar protein yang dapat meningkatkan penyimpanan lemak yang lebih tinggi di dalam tubuh.

Di sisi lain, sampel otot menunjukkan penurunan protein struktural yang penting untuk membangun massa otot. ''Kehilangan tidur dengan sendirinya mengurangi protein yang merupakan komponen kunci dari otot,'' kata Cedernaes.

Cedernaes menjelaskan tidur yang terganggu bisa memengaruhi siklus hormonal tubuh. Ini tidak hanya merusak produksi hormon testosteron dan pertumbuhan, tetapi juga memicu peningkatan tingkat hormon stres kortisol yang meningkatkan penyimpanan lemak.

Baca Juga: Mengenal Kanker Otak, Penyakit yang Merenggut John McCain

Selain itu, ini bisa secara signifikan dikaitkan dengan risiko diabetes tipe 2. Untuk mengurangi ini, kamu bisa mengonsumsi makanan yang kaya protein atau melakukan latihan ketahanan yang dapat mengurangi risiko degradasi otot.

×
Zoomed
TERKINI
VinFast menjadi simbol nyata dari kebangkitan industri hijau Asia Tenggara....
info | 13:30 WIB
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB