Info

Menurut Survei, Masyarakat Dunia Semakin kurang Tidur, Ini Bahayanya

Hasil survei mengungkapkan masyarakat dunia semakin kurang tidur.

Vika Widiastuti

Ilustrasi mengantuk (Unplash/Annie Spratt)
Ilustrasi mengantuk (Unplash/Annie Spratt)

Himedik.com - Kualitas tidur telah menjadi persoalan di seluruh dunia. Bahkan menurut laporan survei tidur global tahunan yang diterbitkan The Global Pursuit of Better Sleep Health dari Royal Philips, banyak orang hanya tidur selama 6,3 jam pada hari kerja dan 6,6 pada akhir pekan.

Hal tersebut jauh lebih rendah dari waktu yang direkomendasikan yaitu 8 jam sehari.  Survei tersebut dilakukan dalam rangka memperingati Hari Tidur Sedunia yamg jatuh setiap 15 Maret.

Survei sendiri melibatkan lebih dari 11.000 orang dewasa di Australia, Brasil, Kanada, Tiongkok, Prancis, Jerman, India, Jepang, Belanda, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat untuk mengungkap sikap, persepsi, dan perilaku yang berkaitan dengan tidur.

Hasil survei mengungkapkan masyarakat dunia semakin kurang tidur.  Di saat yang sama, kesadaran akan dampak tidur pada kesehatan meningkat, tetapi kesehatan tidur yang baik justru makin sulit didapatkan. 

Ilustrasi pria begadang. (unsplash/@RU Recovery Ministries)
Ilustrasi pria begadang. (unsplash/@RU Recovery Ministries)

 

Selain kurang tidur, 62 persen orang dewasa dalam survei global menggambarkan tidur mereka sebagai 'agak' atau 'tidak sama sekali' baik, dan hampir setengahnya (44 persen) mengatakan bahwa tidur mereka telah memburuk dalam lima tahun terakhir. 

Dampaknya kemudian terlihat pada kehidupan sehari-hari, ketika 60 persen mengalami kantuk di siang hari secara berulang di sepanjang minggu.

Di negara-negara Asia-Pasifik yang disurvei, stres adalah alasan utama individu terjaga di malam hari dengan 50 persen kehilangan tidur karena khawatir atau tekanan. 

Selain itu, faktor lain yang membuat orang dewasa di kawasan Asia-Pasifik terjaga di malam hari antar lain: lingkungan tidur mereka (32 persen), gangguan dalam bentuk hiburan seperti televisi, media sosial (27 persen), kondisi kesehatan seperti masalah nyeri atau pernapasan (23 persen), minum minuman berkafein atau mengkonsumsi obat-obatan tertentu menjelang tidur (18 persen), dan pasangan mendengkur (17 persen).

Meskipun terdapat kebutuhan untuk mengatasi kekurangan tidur, masalah tidur sering tidak menjadi prioritas. 

Ilustrasi stres di depan laptop - (Shutterstock)
Ilustrasi stres di depan laptop - (Shutterstock)

 

Untuk memperoleh tidur yang lebih baik, 31 persen responden di Asia-Pasifik bersedia untuk mempelajari lebih lanjut tentang tidur dan/atau perawatan untuk meningkatkan kualitas tidur mereka secara online, dan 34 persen bersedia menemui spesialis tidur. 

Namun, sebanyak 75 persen orang dewasa belum mencari bantuan dari profesional medis untuk mengatasi permasalahan tidur mereka, terutama karena biaya konsultasi (25 persen) dan perawatan (30 persen) yang akan ditanggung.

Padahal kurang tidur sudah lama dikaitkan dengan masalah kesehatan fisik dan mental seperti obesitas, penyakit kardiovaskular, stroke sampai menurunnya daya ingat.  (Suara.com/Risna Halidi)

Berita Terkait

Berita Terkini